Dan saat ini setelah ribuan kilometer perjalanan ini, kesimpulanku hanya satu.
Thursday, February 20, 2014
Ribuan Kilometer
Saturday, August 24, 2013
Waktu
Pagi, sayangku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Masihkah terlelap? Atau sudahkah kau terbangun dari tidurmu?
Bagaimana tidurmu? Lelap. :)
Sudah belakangan ini ku tak bisa tertidur nyenyak, seperti ada yang terus mengganggu diri.
Selamat pagi sayang. Aku tak dapat melihat sapaanmu di pagi ini.
Mentari masih bersembunyi.
Waktu berdetak.
Siang, kasihku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Sedang apakah dirimu? Berada dimanakah dirimu? Sudahkah kau menyantap hidangan siangmu?
Selamat siang sayang. Aku baik-baik saja, hanya aku semakin merindukanmu.
Ku tatap layar ponsel. Tak kunjung memunculkan apa yang kuharapkan.
Ku tekan tombol hijau itu, hanya nada dering dan mesin yang menyahut. Tak terangkat.
Diriku tersenyum, menanti, sembari mencoba menenggelamkan diri dalam mimpi.
Waktu terus berdetak, semakin lambat, semakin larut.
Malam, cintaku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Belumkah kau pulang? Apakah masih berkerja dirimu selarut ini? Sudahkah kau menyantap hidangan malam yang menggoda itu?
Selamat malam sayang. Aku masih menanti dirimu, mungkinkah kau sudah terlelap dahulu.
Rindunya semakin menusuk, tak ada sepatah kata.
Aku terbayang dirimu, wajahmu, menemaniku dimana ku berbaring.
Ku menanti dan mencari.
Dengan tubuhku yang sedari pagi hanya terbujur di atas kasur ini sembari menanti dering nada.
Maaf sayangku, jika aku terisak kembali saat menuliskan ini, aku hanya sedikit lelah. Bukan lelah menanti.
Maaf sayangku, jika aku membisu dan hanya tersenyum sambil menitik air mata.
Ku berimaji kembali diiringi rekaman nyanyian dirimu.
Maaf sayangku, aku begitu merindukan dirimu, seperti bulan, mentari, dan bintang yang ku ceritakan padamu.
Sunday, August 18, 2013
Malam
Malam menghampiri, tahukah, semalam, nanti, esok malam.
Sudah terlelap penat dalam buaian angin sang malam, sayangku.
Diri masih terus terjaga memastikan kau terlelap, sesekali ku mendesir menenangkan kau yang mengigau, seakan berkata,"tenang aku disisimu."
Sudah terbang melayang ke alam mimpi, sayangku.
Diri masih terus asyik bercerita sendiri tentang harinya sebagai dongeng untukmu, terlelaplah bersama bintang.
Sudah berkukur menyanyikan lagu malam tanda begitu lelah, sayangku.
Diri bersenandung mengucap nama, harapan, dan salam dengan manis membalas nyanyianmu.
Sudah terpejam lelap oleh hangat bulan, sayangku.
Diri memeluk erat hangat tubuhmu, meski dalam imaji, takkan dilepasnya.
Diri terpejam, matanya terpejam manis, meski sesekali terbasahi oleh suara titik rindu.
Tidur, tidurlah, sayangku sebelum mentari hadir dan kau akan bekerja, ingin terlihat semburat manis kata sayang senyum kecupmu menyambut.
Tidur, tidurlah, sayangku.
Diri akan menutup dengan senyum dan kata,"Aku mencintaimu."
Pantonim
Duduk, ditemani secangkir teh hangat dalam genggaman.
Menanti hadirnya hidangan yang begitu sedap wanginya, tak sabar ku ingin
segera menyantapnya.
Tiba-tiba dari kejauhan datang seseorang lelaki, berpakaian rapi,
mengenakan dasi kupu merah, berkemeja hijau, rompi silver dan celana
kain hitam.
Mukanya putih dipoles oleh campuran kapur dan air, kepalanya berhiaskan
topi kupluk berwarna merah hijau kuning.
Bertanya diriku, apa yang akan ia lakukan?
Oh, dia sedang seorang badut pantonim.
Ia memperkenalkan pantonim.
Ia berbicara begitu lantang bersemangat, sendirian.
Seperti berpidato dalam upacara kemerdekaan,
ia menggebu-gebu mengenalkan kepada semua orang apa itu pantonim.
Mataku mulai tertuju kepadanya.
Ku memperhatikan dan menyaksikannya.
Lucu, sungguh.
Aku cukup menikmati sajian penampilannya.
Aku tersenyum.
Setelah ia selesai pertunjukan, diriku sempat bertanya.
Mengapa muka harus dipoles putih?
Agar semua mata yang melihat dapat membaca jelas ekspresi yang diutarakannya, baik dari jarak dekat maupun jauh, jawabnya.
Dan ia menutup sedikit atraksinya dengan kata yang cukup bagus.
"Tanpa berbicara kita juga bisa mengutarakan dan mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan melalui gerak, efek suara, dan ekspresi wajah terutama mata. Tanpa disadari dan mereka sadari orang-orang di sekeliling kita telah melakukannya, hanya tinggal dari diri kita sendiri saja. Mampu dan mau peduli atau tidak. Dan yang terpenting adalah, jangan pernah berbohong, selalu jujur terhadap diri."
Kata-kata yang sedikit menyentilku kala itu.
Akhirnya kudapan malamku telah datang, aku mulai melahapnya sedikit demi sedikit sambil berpikir.
Ya, sepertinya aku juga sedang menjadi seorang badut pantonim, melakukan hal yang sama dengan pria itu.
Namun alasanku satu, karena tak ingin menambah beban pikirannya, tak ingin ku mengeluh.
Jadi kupilih untuk menutupinya dengan topeng pantonimku.
Aku berpantonim, namun berpantonim dari tulisan, suara, dan nada.
Posted by Little Purple Monster at 12:19 AM 0 comments
Labels: independence, Life, Love, story, Thoughts
Tuesday, August 13, 2013
Lagu Cinta: Aku Mencintaimu Juga
Aku tersenyum, terpaku dalam dekap malam.
Ya tak kupungkiri aku begitu menyukai apa yang kau ungkapkan, tertulis dalam media elektronik, sebuah pernyataan nyanyian hati.
Tak cukup sekali aku membacanya.
Hingga saat ini, telah berpuluh kali terhitung ku membukanya kembali dan membacanya.
Terlena, ya aku terlena dalam tiap lirik kata ungkapanmu.
Tak kusangka kau akan mengungkapkannya, menuliskannya, menjadi suatu lagu cinta.
Begitu manis dan lucu.
Sayangku, selalu senandungkan lagu itu untukku dengan tulus manis dan lembut berarti.
Kan selalu kusenandungkan laguku untukmu.
Dan kita dapat bersama dalam harmoni.
Aku mencintaimu juga, sayangku.
Sunday, August 11, 2013
Terlelap
Telah kupejamkan mata, memeluk dirimu dalam imaji, namun aku belum terlelap.
Seperti biasa, kembali, terdengar jelas di telingaku.
Suara hembusan nafasmu yang dalam dan hangat.
Sekali, dua kali dengkuran terdengar jelas, tanda dirimu sudah terlelap.
Begitu cepat kau terlelap. Bagaimana tidak, kau cukup lelah setelah seharian berkegiatan dengan giat dan padat.
Dengkuran itu juga menandakan kau begitu lelah, karena biasanya kau terlelap tanpa dengkuran seperti itu.
Akupun hanya tersenyum, namun sesekali akupun tertawa lirih mendengarnya.
Entahlah, aku begitu menyukai ketika mengetahui kau terlelap dengan nyaman ketika ku berceloteh.
Rindu memang, bercerita denganmu di malam hari seperti biasanya.
Namun saat ini ku tahu kau harus banyak beristirahat.
Pagi betul kau sudah terbangun, mengucap salam padaku, saling bercengkrama melalui pesan singkat hingga menjelang siang hari sebelum kau menghilang secara tiba-tiba seperti angin sejuk yang bertiup lembut di pipiku.
Malam, begitu larut malam kau kembali, lelah sudah sayangku ini.
Ya, kau sudah begitu lelah, hingga ku tak tega untuk sekedar memanja padamu, walau sebenarnya ku begitu ingin.
Tapi kesehatanmulah yang utama.
Ku tak ingin kau kembali jatuh sakit, kau berada jauh di tanah orang, ku tak dapat menjangkaunya.
Dan itulah yang paling membuatku risau.
Sesekali kau mengigau, seperti anak kecil yang mengeluh, hingga kau memanggil namaku lalu kau terbangun kaget.
Kutenangkan dirimu dengan desisan lembut dari bibirku.
Dan kau kembali tertidur mendekapku.
Begitu manis kau tertidur.
Meski terlelap, terbang terbawa mimpi, kau tetap memeluk erat tubuhku untuk menjagaku dalam hangat ragamu.
Sunday, August 4, 2013
Sayangku: Lagu Kemayuku
Pagi indah melambai lembayung merdu.
Langkahku pagi itu diiringi suara burung gereja yang berkicau.
Ternyata ia yang disana, kekasih, telah terjaga dan disambut hangat oleh bisikkan ilalang yang mendayu.
Dalam mereka ia menyimpan dan menyampaikan rindu.
Dalam angin ilalang meneruskan pesan indah rindu.
Disini aku tersenyum dan mencumbu pesan rindu.
Meski terkadang ia menggoda sehingga ku cemburu, tak mengapa, ku tak meragu.
Nyanyian malam yang selalu kusenandungkan merayu
Mengucapkan kataku yang membisu kepadamu.
Kasih dan setia yang membeku padamu, Sayangku.
Dalam lagu, kusenandungkan dengan kemayu.
Saturday, July 27, 2013
Times Calling
Under that starry sky I try to close my eyes, I can't.
I don't know why I'm keep smiling and stayin awake to calling the sun.
But suddenly the gloomy comes.
Times to call the sun, I keep calling the sun, but NO!
Already one-half-hour I'm yelling, no answer at all, only the chirp of bird answer it. Damn!
I start to panic and worry, until finally there's the sound that I really want to hear.
But the sun only in silence, shows its sadness to me.
I feel more than that. Guilty, sorry, disappointment, sad, and any kind of that crush into my soul. Especially, I've some surprise that I already prepared, that's why I also still stay awake.
But no smile and magic word from the sun.
I only stare, then sit in the silence, don't say anything.
Today, it's my time to come back again to that place, the place I really hate and scare of.
Is the sun remember it? Is the sun know it?
I've no clue.
Just wish the sun calls me back, smiles like used to, and this time accompany me.
Wish me luck and I love you so.
Posted by Little Purple Monster at 8:32 AM 0 comments
Friday, July 26, 2013
That
See. See that.
Still think and look to the another one, another side, even you already got the best in your arms and eyes. Why you still look around?
Think. Think of that.
It can't become a reason and there aren't any premises to make that make sense even for logic or feeling. If still stubborn with that, you're nuts and egoist.
Careful. Careful with that.
It can kills you and another, so silently, fastly or slowly. Depend on how you do.
Don't waste your life, precious life to do something useless and stupid for you life and lover, anyone around you.
Don't waste your mouth, sweet mouth to talk about something that you didn't really meant it, you say that words only like throw a garbage to the dustbin.
Only in mouth not in heart.
p.s.
I write this one inspirited from the "A Thousand Words" movie.
Posted by Little Purple Monster at 11:26 AM 0 comments
Thursday, July 25, 2013
Sunshine
Covered in white, she deeply stare and talk to the sun.
The morning dew drops right on her pink blush cheeks.
The cold of morning wind blows her hair so softly.
Beauty, beauty. Beauty of the sunshine make her stunts.
The warmth of the sunshine make her so comfy to sleep in it.
The sweet smiles of the sunshine makes her day full of joy after the gloomy night.
The magic words from the sunshine that shine on her and weep her night tears, makes her more miss and love the sunshine always.
Every single day it grows.
For the sunshine. The one and only.
Sunday, July 21, 2013
Pouring Rain
Yes, when I write this one the dark night sky was raining.
Quite heavy rain.
Sky, so black clear and every raindrops twinkling like crystal clear.
One by one its wet me from head to toe, inside and outside, cover and hide my silent tears.
I stare at the sky, watching raindrops dancing in the bling bling night stage.
Moon shines on them as the lights effect.
Wind blows on the trees as the music.
They dance so passionately.
The moves so beautiful, when I stare it deeper and deeper, that moves draw some patterns.
The patterns that I always like, see, miss and think.
They draw the face of yours, my lovely dovey.
Shine so bright, feel so warm, taste so sweet, looks lovely as usually.
I smile and start to close my eyes.
Keep that on my mind and heart.
I sleep with your warmth in the pouring rain.
Thursday, July 18, 2013
Hypnotize
That face draw of child suavity,
That face full of joy and beauty,
That face with white innocent and purity,
That face titivate sweetest smiles which right now in a thousand-hundred-mile away from this mighty city.
Miss it so,
kiss the chubby cheeks and smoothy lip of the sun, so passionately,
touch it gently
see it deeply.
feel it warmly.
Tonight,
I lay in my bed,
stare the midnight noir sky,
whisper the secret message to the stars,
deliver to the sun with the windy wind singing,
that magic spell which hypnotize us.
Monday, July 15, 2013
Ceritera Waktu
Udara pagi ini begitu dingin mencekam hingga rasanya tubuh ini hanya ingin terbalut rapi dalam selimut putih yang tebal ini.
Pelukannya begitu kurindu, terutama saat seperti ini.
Andai saja aku pergi ke tanah tetangga ini bersama dia, menghabiskan waktu liburan ini dengan manis bersamanya.
Sayangnya memang waktunya belum tepat, ia harus segera memenuhi kewajibannya dahulu.
Rindu, itulah yang begitu kental merasuk dalam diri.
Terjagakan oleh jarak dan waktu.
Ia begitu merindu, ia menyampaikannya dengan manis kepadaku. Memanja.
Akupun juga merasakan hal yang serupa dengannya, sejak awal ia harus berangkat, dan ku tak dapat melihat senyum manisnya untuk sementara waktu.
Aku menyukainya ketika ia berbicara dan mulai memanja.
Aku sangat suka itu.
Saling memuja dan mendamba.
Ketika seperti ini aku beruntung dapat sedikit melepas rindu melalui barang pemberiannya.
Yang kusuka adalah liontin ungu dan boneka darinya, dua benda yang begitu bermakna untukku.
Dulu ia membuatkanku sebuah gelang merah manis, sayangnya itu harus aku simpan saja karena terlalu rapuh.
Oh, ya pasti, malam ini aku semakin merindunya.
Apalagi ketika menanti pesan singkat darinya yang tak kunjung menghiasi telepon genggamku.
Dan melodi dari rekaman nyanyiannya selalu bersenandung mengayunkan diri, mengucap rindu dalam tiap katanya.
Waktulah yang menyimpan ceritera ini semua, dalam detik akhirnya akan memberi makna dan pelajaran untuk selanjutnya.
Sunday, July 7, 2013
Jiwa Juwita
Selamat pagi, sayang!
Salam dan kecup hangat dari Juwita kepada Jiwa begitu juga sebaliknya melalui sinar hangat sang mentari.
Percakapan sederhana memulai hari mereka.
Meski jauh Jiwa dan Juwita semua tk menghalangi niat dari mereka untuk tak berkata.
Juwita suka menanti Jiwa hingga petang. Entahlah menurut Juwita itu hal yang mengasyikan baginya.
Jiwa tidak pernah bisa diam, selalu ada saja yang menyibukkan dirinya, bermain maupun bekerja.
Hingga terkadang Jiwa perlu ditegaskan oleh Juwita agar tak lalai dengan dirinya.
---
Kali ini memang Jiwa sedang bertugas cukup jauh.
Beruntung Jiwa dan Juwita dapat terhubung menjalin kasih lewat pesan singkat yang disampaikan oleh desir angin lembut.
Memang butuh kesabaran juga yang cukup. Namun tak mengapa selama mereka dapat bersama.
Juwita kali ini tak menghiraukan pesan angin dari yang lain dimana ditujukan kepada Jiwa, meski Juwitapun mengerti.
Juwita dan Jiwa telah berjanji.
Juwita setia menanti, Jiwa utuh kembali.
---
Malam semakin larut Juwita masih menanti Jiwa sambil membaca buku.
Sayup-sayup angin menemaninya.
Hingga tengah malam angin membisikkan kata manis dari Jiwa.
Sayangku? panggil Jiwa dengan hangat kepada Juwita.
Juwita tersenyum dan membalasnya dengan lembut.
Mulailah Jiwa bercerita, seperti dongeng tengah malam, tiap hari selalu ada yang didongengkan oleh sang Jiwa yang dirasa Juwita sepadan dengan ia menemani dan menunggunya.
Burung hantu mulai berdentang menandakan sudah waktunya bagi mereka beristirahat.
Kecup sayang dari Jiwa untuk Juwita, dipeluknya dengan hangat sang Juwita melalui nyanyian malam.
Dimana Jiwa dan Juwita begitu meridu.
Posted by Little Purple Monster at 3:38 PM 0 comments
Thursday, July 4, 2013
Rekaman Manis
Waktu menunjukkan pukul 03.35 saat itu, baru terhitung setengah jam dan Jelita tiba-tiba terbangun dari tidur yang tak cukup nyaman itu. Entah, ia merasa belakangan ini tak bisa tidur lelap seperti biasanya.
Dingin, ketika itu udaranya begitu dingin karena basuhan air hujan.
Setengah tersadar, matanya masih terpejam memaksa melelapkan diri.
Rekaman nyanyian dari suara yang hangat itu masih terus berputar menemani dirinya sampai benar-benar terlelap dan menyambutnya hingga ia terbangun.
Rekaman nyanyian yang mengenakan namanya dalam lirik. Terdengar seperti selalu memanggilnya dengan mesra.
Ya, ia selalu memutarnya dikala titik-titik roman rindu menghujaninya.
Ketika ia harus terlelap dalam hening sendiri karena suatu hal.
Ketika ia harus sendiri tak dapat mendengar detak nafas dan gemerisik keluhan manis sang penyanyi ketika terpejam.
Ketika ia merasa tak lena untuk beristirahat dan akan diputarnya terus menerus.
Ketika ia tersenyum merekah dalam hatinya.
Pasti, apapun itu, selalu dilakukannya, ketika ia akan memulai dan menutup harinya.
Ya, itu adalah suara yang manis.
Manis dan hangat, cukup menenangkan.
Manis, suara sang penyair dan penyanyi yang manis.
Posted by Little Purple Monster at 11:05 PM 0 comments
Wednesday, July 3, 2013
Dentang Pagi
Pagi ini aku tersenyum bahagia layaknya matahari yang hangat menyinariku saat ini.
Dalam benakku terbayang sudah raut wajahnya yang manis memikat, kasihnya yang hangat terucap dari mulut yang berhiaskan gingsul, dekapnya yang menenangkan.
"Uuh.. Pagi.." ucapnya dengan manja menyapa diriku. Begitu lucu dan lembut ia berucap.
Ku kenakan kaos merah bola pemberian darinya, terlihat manis dipakai.
Dia tampak tampan dengan kemeja biru navy, bercelana abu yang sangat muda dan bersepatu suede senada dengan kemejanya.
Dia menghampiriku, melempar senyum manisnya, lalu menciumku memanja.
Seharian aku dan dia membuat cerita yang indah, selama perjalanan tak hentinya aku tersenyum dan dia tak hentinya memandangi dan memanjakanku.
Tak sempat sedikitpun aku terpikirkan akan waktu esok, dimana ia akan memulai untuk 'berpetualang'.
Cukup jauh. Ya, tak dapat dipungkiri aku cukup khawatir, namun tak mengapa.
Aku tahu ia akan kembali, menepati janjinya setelah dua bulan ia bertualang.
---
Malam itu dingin sekali, aku terus memandangi angka pada jam.
Rasa rindu yang ada bukannya terobati, justru semakin menjadi-jadi.
Sejak lama sudah tertahan, aku ingin kuat dan hanya tersenyum di depannya.
Namun sungguh malam itu dalam genggam imajinya aku menitikkan air mata.
Tidak terisak-isak, tidak tersedu-sedu, juga tidak meraung-raung.
Semuanya mengalir begitu tenang dan halus, meski begitu ia tetap mengetahuinya.
Ditenangkannya diriku dan di lelapkan diriku, ucapan salam tidur dan ciuman sebelum terlelap darinya menemaniku dengan hangat.
---
Dentang pagi merdu bernyanyi menyelimuti seisi jelita petang.
Sang mawar merekah manis menanti dengan rona merahnya.
Sang serigala penjaganya yang sedang bertualang memenuhi janji.
Sang mawar hanya selalu berharap untuk ia kembali dengan utuh dan memberi kehangatannya setelah ia menepati.
Posted by Little Purple Monster at 9:27 PM 0 comments
Tuesday, May 21, 2013
Lukisan Malam
Ia belum tertidur, hari sudah terlalu larut, tapi tidak untuknya.
Ia duduk, menyilakan kaki dan memangku buku sketsa miliknya, di sekelilingnya penuh dengan drawing pen, spidol, dan pensil warna dengan kuas kecilnya.
Diam, tertutup, bibirnya.
Menari, gemulai, tangannya.
Menggoreskan tinta dengan pasti.
Garis lembut, kuat, tebal, tipis, semua tertuang dalam buku sketsa miliknya.
Perlahan garis itu menjadi sebuah bentuk wajah.
Cantik dan tampan.
Rupawan.
Terlihat mereka bersandar pada pohon yang sedang berguguran daunnya, di atas bukit yang hijau dekat dengan rumah.
Manis, wanita terlelap di pelukan pria yang membaca tentang kehidupan.
Belajar untuk semakin melindungi sang wanita.
Entah apa yang membuat dirinya menggoreskan tinta-tinta tersebut dan membentuknya menjadi sebuah mimpi dalam ceritera.
Mimpi manis seseorang bersama yang dikasihi.
Akankah ia juga atau akan memimpikannya?
Tak tahu. Yang jelas itu hanyalah ceritera mimpi tentang rindu, sekarang dan esok nanti, hingga tutup usia.
Saturday, April 13, 2013
The Princess
No.
That's not you who the princess that he means, but her.
No.
He said only one princess that he knows, not you but her.
No.
She asked, "Is it me? Yes or No" and he answered "Yes", no it's not for you, but for her.
I can say no more.
I don't understand.
I fall and broke, my body numb.
I don't know what you already did.
Yes.
You, the princess.
I'm, nothing.
So. I just see them smile and buried in the shadow.
I will hide alone silently in the infinity hurtful sky and finally vanish and die.
Posted by Little Purple Monster at 7:34 PM 0 comments
Saturday, March 16, 2013
Tertidur
Sang putri yang terbius tertidur,
Sang putri tidur yang tak akan pernah lagi terbangun untuk menyambut sang mentari dan hanya akan menjadi sebuah dongeng kenangan ucapan perpisahannya.
Selamanya sang putri akan tidur, sendiri, sukmanya tak kembali, meski berjuta orang berdoa.
Selamanya sang putri akan tertidur di taman bunganya yang ikut mati.
Posted by Little Purple Monster at 4:28 PM 0 comments
Malam Puncak
Malam ini adalah puncaknya.
Aku kembali terduduk manis di kursi belakang.
Mengelilingi kota Jogja yang indahnya tak terkikis waktu,
dan rindu mulai menghampiri menanti bunyi panggilan.
Malam ini adalah puncaknya.
Aku tertawa namun termenung.
Berbicara namun membisu.
Malam ini adalah puncaknya.
Bahagia bercampur duka.
Nikmat bercampur derita.
Semua terasa melebur menjadi satu dalam jiwa.
Malam ini adalah puncaknya.
Aku terdiam membeku dalam pelukan sahabatku,
dan membuatku menangis sejadi-jadinya.
Malam ini adalah puncaknya.
Aku berjalan tanpa arah, penuh dengan kebingungan.
Aku berlari tanpa kepastian menuju harapan.
Malam ini adalah puncaknya.
Aku mulai terbujur kaku tak tau harus bagaimana.
Jantung lelah berdetak.
Aku mulai mati dan membusuk. Dan malam ini adalah puncaknya.
