That face draw of child suavity,
That face full of joy and beauty,
That face with white innocent and purity,
That face titivate sweetest smiles which right now in a thousand-hundred-mile away from this mighty city.
Miss it so,
kiss the chubby cheeks and smoothy lip of the sun, so passionately,
touch it gently
see it deeply.
feel it warmly.
Tonight,
I lay in my bed,
stare the midnight noir sky,
whisper the secret message to the stars,
deliver to the sun with the windy wind singing,
that magic spell which hypnotize us.
Thursday, July 18, 2013
Hypnotize
Monday, July 15, 2013
Ceritera Waktu
Udara pagi ini begitu dingin mencekam hingga rasanya tubuh ini hanya ingin terbalut rapi dalam selimut putih yang tebal ini.
Pelukannya begitu kurindu, terutama saat seperti ini.
Andai saja aku pergi ke tanah tetangga ini bersama dia, menghabiskan waktu liburan ini dengan manis bersamanya.
Sayangnya memang waktunya belum tepat, ia harus segera memenuhi kewajibannya dahulu.
Rindu, itulah yang begitu kental merasuk dalam diri.
Terjagakan oleh jarak dan waktu.
Ia begitu merindu, ia menyampaikannya dengan manis kepadaku. Memanja.
Akupun juga merasakan hal yang serupa dengannya, sejak awal ia harus berangkat, dan ku tak dapat melihat senyum manisnya untuk sementara waktu.
Aku menyukainya ketika ia berbicara dan mulai memanja.
Aku sangat suka itu.
Saling memuja dan mendamba.
Ketika seperti ini aku beruntung dapat sedikit melepas rindu melalui barang pemberiannya.
Yang kusuka adalah liontin ungu dan boneka darinya, dua benda yang begitu bermakna untukku.
Dulu ia membuatkanku sebuah gelang merah manis, sayangnya itu harus aku simpan saja karena terlalu rapuh.
Oh, ya pasti, malam ini aku semakin merindunya.
Apalagi ketika menanti pesan singkat darinya yang tak kunjung menghiasi telepon genggamku.
Dan melodi dari rekaman nyanyiannya selalu bersenandung mengayunkan diri, mengucap rindu dalam tiap katanya.
Waktulah yang menyimpan ceritera ini semua, dalam detik akhirnya akan memberi makna dan pelajaran untuk selanjutnya.
Sunday, July 7, 2013
Jiwa Juwita
Selamat pagi, sayang!
Salam dan kecup hangat dari Juwita kepada Jiwa begitu juga sebaliknya melalui sinar hangat sang mentari.
Percakapan sederhana memulai hari mereka.
Meski jauh Jiwa dan Juwita semua tk menghalangi niat dari mereka untuk tak berkata.
Juwita suka menanti Jiwa hingga petang. Entahlah menurut Juwita itu hal yang mengasyikan baginya.
Jiwa tidak pernah bisa diam, selalu ada saja yang menyibukkan dirinya, bermain maupun bekerja.
Hingga terkadang Jiwa perlu ditegaskan oleh Juwita agar tak lalai dengan dirinya.
---
Kali ini memang Jiwa sedang bertugas cukup jauh.
Beruntung Jiwa dan Juwita dapat terhubung menjalin kasih lewat pesan singkat yang disampaikan oleh desir angin lembut.
Memang butuh kesabaran juga yang cukup. Namun tak mengapa selama mereka dapat bersama.
Juwita kali ini tak menghiraukan pesan angin dari yang lain dimana ditujukan kepada Jiwa, meski Juwitapun mengerti.
Juwita dan Jiwa telah berjanji.
Juwita setia menanti, Jiwa utuh kembali.
---
Malam semakin larut Juwita masih menanti Jiwa sambil membaca buku.
Sayup-sayup angin menemaninya.
Hingga tengah malam angin membisikkan kata manis dari Jiwa.
Sayangku? panggil Jiwa dengan hangat kepada Juwita.
Juwita tersenyum dan membalasnya dengan lembut.
Mulailah Jiwa bercerita, seperti dongeng tengah malam, tiap hari selalu ada yang didongengkan oleh sang Jiwa yang dirasa Juwita sepadan dengan ia menemani dan menunggunya.
Burung hantu mulai berdentang menandakan sudah waktunya bagi mereka beristirahat.
Kecup sayang dari Jiwa untuk Juwita, dipeluknya dengan hangat sang Juwita melalui nyanyian malam.
Dimana Jiwa dan Juwita begitu meridu.
Posted by Little Purple Monster at 3:38 PM 0 comments
Thursday, July 4, 2013
Rekaman Manis
Waktu menunjukkan pukul 03.35 saat itu, baru terhitung setengah jam dan Jelita tiba-tiba terbangun dari tidur yang tak cukup nyaman itu. Entah, ia merasa belakangan ini tak bisa tidur lelap seperti biasanya.
Dingin, ketika itu udaranya begitu dingin karena basuhan air hujan.
Setengah tersadar, matanya masih terpejam memaksa melelapkan diri.
Rekaman nyanyian dari suara yang hangat itu masih terus berputar menemani dirinya sampai benar-benar terlelap dan menyambutnya hingga ia terbangun.
Rekaman nyanyian yang mengenakan namanya dalam lirik. Terdengar seperti selalu memanggilnya dengan mesra.
Ya, ia selalu memutarnya dikala titik-titik roman rindu menghujaninya.
Ketika ia harus terlelap dalam hening sendiri karena suatu hal.
Ketika ia harus sendiri tak dapat mendengar detak nafas dan gemerisik keluhan manis sang penyanyi ketika terpejam.
Ketika ia merasa tak lena untuk beristirahat dan akan diputarnya terus menerus.
Ketika ia tersenyum merekah dalam hatinya.
Pasti, apapun itu, selalu dilakukannya, ketika ia akan memulai dan menutup harinya.
Ya, itu adalah suara yang manis.
Manis dan hangat, cukup menenangkan.
Manis, suara sang penyair dan penyanyi yang manis.
Posted by Little Purple Monster at 11:05 PM 0 comments
Wednesday, July 3, 2013
Dentang Pagi
Pagi ini aku tersenyum bahagia layaknya matahari yang hangat menyinariku saat ini.
Dalam benakku terbayang sudah raut wajahnya yang manis memikat, kasihnya yang hangat terucap dari mulut yang berhiaskan gingsul, dekapnya yang menenangkan.
"Uuh.. Pagi.." ucapnya dengan manja menyapa diriku. Begitu lucu dan lembut ia berucap.
Ku kenakan kaos merah bola pemberian darinya, terlihat manis dipakai.
Dia tampak tampan dengan kemeja biru navy, bercelana abu yang sangat muda dan bersepatu suede senada dengan kemejanya.
Dia menghampiriku, melempar senyum manisnya, lalu menciumku memanja.
Seharian aku dan dia membuat cerita yang indah, selama perjalanan tak hentinya aku tersenyum dan dia tak hentinya memandangi dan memanjakanku.
Tak sempat sedikitpun aku terpikirkan akan waktu esok, dimana ia akan memulai untuk 'berpetualang'.
Cukup jauh. Ya, tak dapat dipungkiri aku cukup khawatir, namun tak mengapa.
Aku tahu ia akan kembali, menepati janjinya setelah dua bulan ia bertualang.
---
Malam itu dingin sekali, aku terus memandangi angka pada jam.
Rasa rindu yang ada bukannya terobati, justru semakin menjadi-jadi.
Sejak lama sudah tertahan, aku ingin kuat dan hanya tersenyum di depannya.
Namun sungguh malam itu dalam genggam imajinya aku menitikkan air mata.
Tidak terisak-isak, tidak tersedu-sedu, juga tidak meraung-raung.
Semuanya mengalir begitu tenang dan halus, meski begitu ia tetap mengetahuinya.
Ditenangkannya diriku dan di lelapkan diriku, ucapan salam tidur dan ciuman sebelum terlelap darinya menemaniku dengan hangat.
---
Dentang pagi merdu bernyanyi menyelimuti seisi jelita petang.
Sang mawar merekah manis menanti dengan rona merahnya.
Sang serigala penjaganya yang sedang bertualang memenuhi janji.
Sang mawar hanya selalu berharap untuk ia kembali dengan utuh dan memberi kehangatannya setelah ia menepati.
Posted by Little Purple Monster at 9:27 PM 0 comments
Monday, June 24, 2013
Tujuh Hari
Waktu menunjukkan pukul lima pagi, Caroline tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang lelap semalam.
Nafasnya terdengar sedikit berat, matanya terbuka kaget seperti melihat hantu di pagi buta.
Setitik air mata berhias di pucuk mata kanannya, bibirnya spontan berkata, "Tidak..".
Entah, apakah mimpi itu sebegitu buruk baginya, atau mungkin bukan sebuah keburukan namun sebuah kekhawatiran?
Caroline kembali memejamkan matanya seraya membalikkan arah tubuhnya ke samping dan memeluk erat boneka beruang kesayangannya.
Pukul sepuluh pagi, hangat sinar matahari mulai memasuki ruang tidurnya, ia bergegas bangun membasuh wajahnya lalu membersihkan dirinya.
Ya hari itu hari Minggu, ia dapat sedikit bersantai di tengah waktu ujian.
Selesai ia membasuh diri, ia lalu turun dan menghampiri sang Bunda yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk siang nanti.
"Sudah bangun? Tumben, biasanya kalau libur bangunnya siang gara-gara semalaman bergadang menonton film." tanya sang Bunda sambil tersenyum.
"Sudah dong.. hehehe..." jawab Caroline.
Melihat Bundanya sibuk memasak Caroline pergi meninggalkan dapur agar tidak mengganggu, ia menuju ruang makan dan mengambil sebuah apel merah segar yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin.
Caroline menggigit apel itu sedikit demi sedikit, ia duduk di ruang santai dimana adiknya yang gendut sedang bermain dengan mainan baloknya.
"Mau dong!" pinta adiknya ke Caroline.
"Ambil sendiri lah..." ungkap Caroline.
"Ah, jauh..." jawab adiknya.
"Bilang saja malas. Dasar gendut!" ungkap Caroline sembari memberi adiknya apel itu.
Pukul sebelas pagi, ia mulai memegang telepon genggamnya, membuka dan mengecek notifikasi yang memenuhi layar telepon selularnya itu.
Ah, tidak ada yang menarik.
Caroline membuka pesan singkat, lalu mengirimkan pesan kepada Harry.
"Selamat pagi" pesan yang dituliskan oleh Caroline. Tak lupa juga memasukkan sedikit kecupan pagi dari dirinya.
Tak perlu berharap untuk segera dibalas olehnya, Caroline sudah hafal betul kapan Harry akan terbangun dan membalas pesan singkat itu.
Caroline mengangkat kepalanya dan tanpa disadari matanya menatap kalendar yang menggantung di tembok dekat dengan tirai jendela.
"Sekarang, sudah Minggu ya..." ungkapnya lirih.
Ia mulai sibuk mengitung jumlah hari yang tersisa untuk menyeberang ke bulan selanjutnya.
"Satu... Dua.. Tiga... dan tujuh? Tujuh hari lagi."
"Hanya satu minggu lagi berarti.... Dan Harry... Hmmm..." ucapnya dalam hati.
Caroline berdiri dan berlari naik menuju atas.
"Mau kemana???" tanya adiknya yang kaget karena tiba-tiba Caroline berlari terburu-buru.
"Kamar." jawab Caroline dengan keras namun lembut.
Caroline mulai terlihat seperti orang yang tidak wajar, ia bergumam sendiri dengan dirinya.
Ia mencoba menenangkan diri.
"Tunggu, berarti..." ia mulai meracau tidak jelas.
"Tidak.. Kenapa cepat sekali? Dan.. Dan.. Nanti... Dia! Dua bulan!? Arrgh!"
Caroline terduduk di atas kasurnya yang penuh dengan boneka itu menenangkan diri.
"Tenang! Hanya dua bulan!"
"Hanya... hahaha... Tapi ini tidak lucu! Mengapa begitu cepat?"
Pikiran Caroline mulai berterbangan entah kemana, semua kembali membawa hal yang berbeda-beda.
Ia kala itu hanya dapat terdiam dan sesekali tersenyum sendiri sembari menatap foto pada layar telepon selularnya.
----
Pukul satu lebih dua puluh tujuh menit pagi, dimana tersisa enam hari lagi, Caroline menelepon seseorang.
Siapa lagi jika bukan dia yang dikirimkannya pesan singkat itu.
Berbincang-bincang dan sesekali bercanda, dan tertawa.
Caroline mulai bertanya, "Kamu sudah siap-siap?"
"Belum... Hehehehe.. Weee!" pertanyaan Caroline dijawab dengan sedikit keisengan.
Caroline hanya membalasnya dengan tertawa.
Bibir Caroline mulai bergerak kembali, kali ini ia hanya berkata, "Cepat sekali ya. Sangat cepat."
"Rindu ya?" Caroline berbalik ditanya, namun ia hanya menganggukkan kepala dan menjawab lirih.
Keheningan mulai menyelimuti perbincangan mereka.
Caroline hanya terdiam dan tersenyum manis kala itu, meski sesekali ia menahan bibirnya yang selalu ingin melengkuk ke bawah.
Caroline mendapatkan sebuah pesan dari dia, dan Caroline tak bisa menjawab maupun berjanji untuk terus bisa mengatasi hal-hal itu. Sesekali ia pasti menyentuh titik puncak dari rasa tersebut. Namun Caroline bisa berjanji dengan kesetiaannya.
"Sudah, ayo tidur.." ungkap Caroline dengan suaranya yang gemetar.
Kata-kata romansa dari Caroline maupun dia keluar menutup perbincangan mereka malam itu.
Setidaknya Caroline merasa senang ia masih bisa menutup hari dengan tersenyum, meski dihiasi dengan sedikit titik hujan pada pipinya.
-----
Caroline tidak berharap banyak, ia hanya berharap dan selalu mendoakan yang terbaik.
Caroline berharap sang dia baik-baik saja dapat segera menyelesaikannya dan kembali pulang.
Caroline berharap rasa rindu dari sang dia selalu tulus untuk Caroline.
Caroline juga hanya berharap kesetiaan sang dia sama besarnya dengan miliknya.
Selalu menjaganya untuk ia, Caroline.
Posted by Little Purple Monster at 11:00 PM 0 comments
Saturday, June 1, 2013
Totally Missing You
I don't know what exactly, why?
Why right now I feel so miss you.
If you know, my heart is beating so fast.
The all previous days that I spent with you still not enough.
Like that days were my last chance to life and be with you, before I fly to God's hand.
Especially yesterday, last night, I was chilled.
You touch my cold nose.
You enveloped me with that softy grey blanket and the warmed me with your hug.
You stared at me, smiled, and kiss me.
How I love your affection. I feel so tranquil, don't wanna end this all.
I don't wanna you leave me and lose you. Totally.
Yes, it's never enough for me to be with you.
Yes, it's also make me worry and always afraid.
Afraid if the bad dreams will happen,
I can't be with you,
die in coldness of your frigidity cause something and someone.
Posted by Little Purple Monster at 12:21 PM 0 comments
Diam
Tatapan matanya penuh dengan binar cinta,
namun sebenarnya menyelimuti rasa resah dan sedihnya.
Begitu tajam menusuk memandang dengan kesenduannya.
"Mengapa kau terdiam?" tanya sang hati dengan penuh keheranan.
"Jangan, janganlah........" tiba-tiba terhenti, namun sang hati sudah tau apa yang akan diucapnya.
Pulang. Ketika kau pulang.
Bermain-main sehingga ia luka, lagi, meski diam-diam ia tetap mengerti.
Diam-diam ia sungguh mengerti, akan selalu mengerti.
Tak mau. Ia tak mau lagi.
Ia diam, diam dalam rasa duka, meski ia tertawa.
Tertahan, semua hanya tertahan dan ingin ditahan karena sudah cukup lelah untuk bercerita.
Diam. Ia hanya diam membisu.
Sesekali wajah manisnya melontarkan senyum menawan bak mawar yang merekah.
Menghibur diri, hanya untuk menenangkan dirinya.
Maafkan ia sayangku, bukan bermaksud tuk tak berbagi.
Maafkan ia yang sekarang hanya akan diam dan berkata dengan senyumnya.
Ya, ia begitu menyayangi dan mencintaimu, dengan lebih.
Selalu, meski ia diam.
Posted by Little Purple Monster at 12:09 AM 0 comments
