Akankah tuanku benar pada ucapnya?
Akankah tuanku memenuhi ucapnya?
Akankah tuanku kembali untuk membangunkanku?
Akankah tuanku juga setia pada rasa dan ucapnya sepertiku?
atau mungkin...
Akankah tuanku pergi berburu?
Akankah tuanku pergi menggenggam jiwa lain?
Tak mengerti, semua tergantung tuanku.
Aku hanya bunga yang merekah merona untuk tuanku seorang, sampai kapanpun.
Dan,
Aku hanya bunga yang suatu saat akan layu dan mati karena tuanku sendiri.
Saturday, March 2, 2013
Tuanku
Tuesday, February 12, 2013
Gadis Manis
8.02.2013
Jumat yang cerah membuat bunga-bunga menjadi merona, semerah pipinya.
Senyuman sang mentari menghangatkan tubuh kecilnya,
angin menari di sela-sela rambutnya yang hitam kelam.
Sambil tersapu malu ia mengucapkan selamat pagi, pada ia, dirinya yang masih terlelap.
Tak banyak yang dilakukan oleh gadis manis itu, sesekali hanya menengok pada detikan jam dan jendela.
Fajar mulai menyapa, apa yang dinanti belum kunjung datang,
sedikit resah, namun tetap sabar menanti.
Tiba-tiba raut wajah gadis manis menjadi lebih manis karena senyuman penantian.
Namun itu tak berlangsung lama.
Pukul empat lebih tiga puluh delapan menit dua puluh tujuh detik mengubah raut wajah manisnya.
Hujan mulai turun membasahi pipinya yang merona,
bukan, bukan sebuah senyuman lagi.
Gadis manis, duduk terdiam, tak mengerti.
Dalam diam ia berpikir dan merasa,
"Apa ini benar?" tanyanya dalam hati.
"Hanya sesuatu yang biasa ataukah mungkin...." seketika ia terhenti.
Tak percaya namun apa daya,
tubuh kecilnya mulai gemetar,
jantungnya berlomba dengan detik waktu.
Kepercayaannya tergores, meski sedikit itu begitu dalam dan menyakitkan.
Gadis manis mulai berpikir kembali,
"Apa yang harus kulakukan? Tetap memuja atau apa?"
"Mana yang harus kupercaya? Masih pantaskah dipercaya"
Gadis manis hanya termenung,
berdiam diri menyeka tetes hujan di pipinya.
"Mungkin hanya akan aku pertanyakan kembali, cukup dengan diriku, menjadi sebuah rahasia ganjalan diri"
Dan gadis manis mulai lemas, tertidur membawa senyum manisnya ke dalam mimpi.
