BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �
Showing posts with label faith. Show all posts
Showing posts with label faith. Show all posts

Tuesday, March 12, 2013

Sederhana

Gemetar, ya tanganku gemetar sambil saling bergesekan.
Dengan sigap kau meraih tangan kurus ini agar sedikit tenang.
"Dingin ya?" suara lembut menyusul.
"Huum" jawabku.
Dan kau tersenyum.

Sweater hitam bergaris tepi putih dengan lambang anjing kecilnya,
serta kemeja kotak biru pemberian sang kakak membalut tubuhmu.
Itu membuatmu terlihat semakin manis. Aku sangat suka.
Ya aku suka yang sederhana namun justru membuat indah.
Itulah juga yang membuatku jatuh dalam dekapmu.

Aku, jika diminta menceritakan tentangmu takkan habis kata.
Sama halnya dengan rasa sayang dan cinta ini padamu.
Aku, jika ditanya apa yang membuatmu jatuh cinta padanya.
Dan aku akan menjawab, "Kesederhanaannya. Aku mencintainya dengan sederhana sedari dulu."
Seperti tulisan Sapardi Djoko Damono dan telah menjadi lagu yang senang kunyanyikan, berkata, "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana"

Sunday, March 3, 2013

Piano Hitam

Dentingan piano itu sudah tak pernah terdengar lagi.
Biasanya tengah malam, suara merdu dari piano hitam itu masih mengiringi sunyinya malam.
Namun sekarang sudah tak pernah lagi terdengar.

Rangkaian nada dari lagu ciptaannya tiba-tiba berhenti.
Sebagian nada hilang dan belum terselesaikan.
Kemana itu semua?
Tak dapat kutemukan lagi nada-nada itu,
nada indah bercerita tentang sang serigala dan bidadari.
Aku tak mengerti...
Sekarang yang terlihat hanya sebuah piano hitam yang berdebu,
di sudut ruang menanti untuk kembali bernyanyi melanjutkan kisah indah itu.

Saturday, March 2, 2013

Tuanku

Akankah tuanku benar pada ucapnya?
Akankah tuanku memenuhi ucapnya?
Akankah tuanku kembali untuk membangunkanku?
Akankah tuanku juga setia pada rasa dan ucapnya sepertiku?
atau mungkin...
Akankah tuanku pergi berburu?
Akankah tuanku pergi menggenggam jiwa lain?

Tak mengerti, semua tergantung tuanku.
Aku hanya bunga yang merekah merona untuk tuanku seorang, sampai kapanpun.
Dan,
Aku hanya bunga yang suatu saat akan layu dan mati karena tuanku sendiri.

Sunday, February 24, 2013

Bidadari

Ia seorang bidadari,
bidadari yang begitu jelita.

Ia seorang bidadari,
bidadari yang bersayap dan begitu cantik bercahaya.
Ia seorang bidadari,
bidadari yang hanya akan hadir untuk pangeran tidurnya.
Ia seorang bidadari,
bidadari yang diperebutkan namun tetap setia.

Setiap pagi, bidadari itu menyapa dengan hangat.
Sayang, kini tak lagi.
Setiap malam, bidadari itu bersenandung menghantar tidur.
Sayang, kini tak lagi.
Sang bidadari menjadi sedikit redup dan rapuh.

Hingga pada waktunya ia,
sang bidadari,
harus pasrah menghilang dalam kesakitan karena tak sanggup terbang kembali.
Ketika sang tuannya terlupa berpindah dengan yang lain,
ia akan hanya terdiam dalam peti emas sampai tuannya kembali.

Dan ia bersenandung,
"Jika waktu itu datang satu yang kupastikan adalah aku takkan sanggup, aku bukan lagi bidadari, bidadarinya, dan hal yang ditakutkannya akan terjadi, ia akan kehilangan diriku.
Namun jika ia dapat mendengarkan senandungku yang disampaikan angin bahwa ku tetap akan setia padanya seorang. Tak akan pernah menjadi bidadari bagi yang lain."

Ialah seorang bidadari,
bidadari yang kehilangan cahaya dan sayapnya patah,
sampai tuannya yang membawa kembali sebelum terlambat dan mati.

Friday, February 22, 2013

Dia

Aku perkenalkan Dia.
Sekali lagi.
Dia yang selalu aku bicarakan tiap saat,
Dia yang selalu aku mimpikan ketika tidur,
Dia yang selalu mengisi hari-hariku,
Dia yang selalu ada dalam doa'ku.

Dia, bergingsul manis, berkulit sawo matang, berparas apik tidak membosankan.
Itu yang kusuka.
Dia, bertubuh langsing namun sangat hangat pelukannya, berambut hitam kelam, bermata indah, serta kepribadiannya.
Itu yang kusuka.
Senyumannya bagai magnet untuk kaum hawa.
Rasa gelisah, was-was, cemburu sering menghampiri, namun aku menikmatinya. Dan ku percaya pada Dia.

Dia, ya, Dia.
Dia yang tak terlupakan.
Dia yang kurindu.
Dia yang kucinta.

Dia.
Alunan laguku ketika malam, mentari pagiku ketika terbangun.
Namun untuk sekarang aku selalu takut untuk terbangun,
bukan, bukannya aku tak ingin melihat parasmu lagi sayang.
Bukan juga aku tak percaya pada janjimu yang akan kembali menemukanku dan membangunkanku.
Ku hanya takut melihat dirimu bukanlah mentari pagiku yang dulu,
bukan mentari pagiku namun ku tetap dalam cahayamu.

Dia.
Ku yakin, ku berharap, ku berdoa, ku berusaha, ku bertahan.
Dia.
Menjadi yang terakhir, menghabiskan sisa perjalananku bersama Dia, dan tiba waktunya ku hanya akan berakhir dalam dekapnya.
Untuk Dia.

Yogyakarta, 21 Februari 2013

Thursday, February 21, 2013

Untuk Pujangga Malam

Untuk sang pujangga malam,
ku takkan berlari, ku tetap berdiri.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan ingkar, ku tetap setia.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan melepas, ku tetap memegang erat hati.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan berhenti, ku tetap bersenandung.

Hanya untuk sang pujangga malam.

Untuk sang pujangga malam,
ku takkan terbangun, ku tetap tertidur.
Sampai nanti Tuhan yang memaksaku untuk terbangun dan tidur dalam pelukan-Nya.

Hanya untuk sang pujangga malam.

Tuesday, February 12, 2013

Gadis Manis

8.02.2013
Jumat yang cerah membuat bunga-bunga menjadi merona, semerah pipinya.

Senyuman sang mentari menghangatkan tubuh kecilnya,
angin menari di sela-sela rambutnya yang hitam kelam.

Sambil tersapu malu ia mengucapkan selamat pagi, pada ia, dirinya yang masih terlelap.
Tak banyak yang dilakukan oleh gadis manis itu, sesekali hanya menengok pada detikan jam dan jendela.

Fajar mulai menyapa, apa yang dinanti belum kunjung datang,
sedikit resah, namun tetap sabar menanti.
Tiba-tiba raut wajah gadis manis menjadi lebih manis karena senyuman penantian.
Namun itu tak berlangsung lama.

Pukul empat lebih tiga puluh delapan menit dua puluh tujuh detik mengubah raut wajah manisnya.
Hujan mulai turun membasahi pipinya yang merona,
bukan, bukan sebuah senyuman lagi.

Gadis manis, duduk terdiam, tak mengerti.
Dalam diam ia berpikir dan merasa,
"Apa ini benar?" tanyanya dalam hati.
"Hanya sesuatu yang biasa ataukah mungkin...." seketika ia terhenti.

Tak percaya namun apa daya,
tubuh kecilnya mulai gemetar,
jantungnya berlomba dengan detik waktu.
Kepercayaannya tergores, meski sedikit itu begitu dalam dan menyakitkan.

Gadis manis mulai berpikir kembali,
"Apa yang harus kulakukan? Tetap memuja atau apa?"
"Mana yang harus kupercaya? Masih pantaskah dipercaya"

Gadis manis hanya termenung,
berdiam diri menyeka tetes hujan di pipinya.
"Mungkin hanya akan aku pertanyakan kembali, cukup dengan diriku, menjadi sebuah rahasia ganjalan diri"
Dan gadis manis mulai lemas, tertidur membawa senyum manisnya ke dalam mimpi.