BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, November 3, 2013

Tuut.. Tuut..

"Tuut tuut... Tuut tuut.. Tuut tuut........" mati tak ada jawaban.

Dering sambungan telefon sore itu terus menyibukkan dirinya. "Tidak, janganlah mati dulu!" gumamnya sendirian diantara orang-orang asing yang dimana juga turut serta larut dalam kepanikan.
Hujan lebat, angin kencang, langit gelap kala itu. Ia tetap menyibukkan diri untuk mendapatkan jawaban.
Bermodal tas kecil yang di dalamnya hanya berisi dompet receh dengan uang pas-pas an , sapu tangan bertuliskan nama inisial kekasihnya, serta partitur piano yang lusuh terlipat-lipat setelah latihan tadi. Bagaimana ia mampu untuk pulang jika seperti ini keadaannya?

Takut. Kala itu begitu takut dirinya melihat angin besar terus bertiup merobohkan satu persatu pohon di depan toko kecil yang terkunci rapat dimana ia berteduh. Nyaris saja sebuah dahan yang cukup besar menghantam dirinya yang terlalu sibuk menunduk dengan telepon selular membalas pesan singkat.
Jikalau saja tubuhnya tak ditarik oleh seorang ibu, pasti sudah menjadi slah satu korban amuk angin. "Awas mba!" teriak sang ibu. Jantungnya terasa berhenti kala itu.

Ia terlamun.
Tak ada siapapun di rumahnya.
Tak ada siapapun juga yang berani keluar dari rumah.
Ia coba untuk menghubungi sekali lagi, baru beberapa deringan. Mati.
"Sial! Kenapa harus habis baterai! Sh**!" ungkapnya sambil gemetar menahan dingin.
Emosinya mulai memuncak tak jelas kala itu. Semua bercampur menjadi satu.
Ia begitu lelah, setelah dari pagi hingga petang berlatih.
Ia begitu lelah. Lelah. Sungguh.

Tiga jam ia harus menanti untuk benar-benar reda.
Ia mulai berjalan mencari alat transportasi yang mungkin cukup dengan jumlah kepingan uang yang kupunya sekarang. Tak ada sedikitpun.
Ia terlihat berantakan, sungguh berantakan.
Sejak semalam ia sudah begitu berantakan, terlelap hanya dua jam, sisanya terbangun oleh lamunan rindu, sampai-sampai hidungnya berdarah entah mengapa.
Benar-benar ia menanti sapaannya. Telefon maupun setidaknya pesan singkat. Tapi sepertinya tak akan ada. Tiap menit diceknya layar telefon itu. Lalu ia mulai tak tahan dan mengetik.
Pagi, ucapnya.

Kakinya mulai gemetar karena lelah berjalan dan dingin yang menusuk.
Kata 'Andai' mulai membayang di pikiran, seperti gadis korek api yang berimaji di tengah dinginnya salju.
Andai saja... Andai saja... Andai saja...
Tubuhnya seakan terasa melayang saat itu, seperti tak sadar.

Sesampai di rumah, sepi.
Langsung dengan sigap ia menuju kamar,
mencharge telepon genggam, dinyalakan,
sayang, tak dapatkan apa-apa.
Terasa hela nafas yang begitu panjang sampai tiba-tiba
meledaklah tangisannya kala itu.
Suara serak tangisan sambil berteriak layaknya ada penculik memenuhi ruangan.
Tangisan dan teriakan karena lelah,
dari tubuh yang masih terbalut pakaian basah bermandikan hujan.
Suaranya,
semakin lama semakin lirih,
dan nantinya akan tertidur dengan sendirinya,
menggenggam foto wajah pujaan rupawan yang dirindu.



Sayang,
Aku rindu.
Aku begitu rindu.
Sayang, apakah kau juga?
Sayang,
Aku cinta.
Aku begitu cinta,
hingga tak pernah bisa waktu menahan rasa cintaku.
Akupun tak mampu.
Aku selalu mencintaimu.
Sayang, apakah kau juga?
Sayang,
Aku tak ingin seperti ini.
Sebenar-benarnya kita tak menyukai ini.
Sayang,
Aku rindu dirimu yang hangat seperti biasanya,
mentari yang selalu menyinari,
seorang lelaki pilihan pendamping kini dan nanti.
Sayang,
apakah kau mendengar dan merasakannyanya?
Lantunan nada itu?
Ya.
Hanya berdegup untuk dirimu, sayang.

Sunday, September 8, 2013

Mentari

Tanganku sibuk menari di atas keyboard pagi itu.
Dengan kacamata berbingkai cokelatku kutatap layar monitor itu.
"Aduh.. Keriting nih otak.." ucapku.
Tak mudah juga ya ternyata menulis itu, menulis juga perlu befikir, apalagi menjelaskan grafik yang ada di depanku dengan singkat, padat, dan jelas mencangkup semuanya.
Berhenti sejenak mengistirahatkan diri, terpajang foto manisnya dengan diriku dalam bingkai di atas meja kayuku.
Aku menatapnya dan tersenyum.

Sesaat aku teringat tentang waktu, ah tak terasa begitu cepat berlalu.
Lihatlah, kau telah menyelesaikan salah satu kewajiban penting sebagai syarat untukmu menyelesaikan akademikmu nanti.
Dua bulan, bukan waktu yang singkat juga bukan waktu yang lama, entahlah terasa begitu membingungkan untukku yang rindu.
"Hemm.." kuhela nafasku, sedikit berat.
Aku teringat, sesaat lagi kau akan menghadapi ujian yang paling akhir.
Kau berkata mungkin Februari kau akan memegang toga itu.

Senang melihat kau bisa mewujudkan harapan dan impianmu.
Aku akan hadir disana, di sisimu.
Namun jika boleh aku berkata, dibalik senyumku aku juga merasa sedikit mendung.
Mungkin aku takut belum siap untuk ditinggal kembali denganmu, terpisah oleh jarak dan waktu.
Ya pasti ku merindu.
Namun harapanku juga satu, ingin melihat orang yang menjadi pendampingku untuk sekarang maupun esok meraih mimpinya dan membanggakan orang-orang yang di mencintainya, Papa, Mami, Kakak, dan Adik ciliknya yang menggemaskan.
Ku tak hanya ingin ia menjadi sebuah mentari untukku namun juga untuk keluarganya, itu yang utama.

Ah, sudahlah pikiranku meracau, bisa-bisa mulai melambung membayangkan yang tidak-tidak nantinya.
Membuatku biru dan menitik hujan.
Tidak sayang, ku takkan menangis, ku kan tersenyum untukmu.
Tenang sayang, ku akan selalu ada di sisimu, menemanimu sampai kapanpun.
Jadilah mentari yang selalu bersinar hangat untuk mereka dan kita.

Saturday, August 24, 2013

Waktu

Pagi, sayangku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Masihkah terlelap? Atau sudahkah kau terbangun dari tidurmu?
Bagaimana tidurmu? Lelap. :)
Sudah belakangan ini ku tak bisa tertidur nyenyak, seperti ada yang terus mengganggu diri.
Selamat pagi sayang. Aku tak dapat melihat sapaanmu di pagi ini.
Mentari masih bersembunyi.

Waktu berdetak.

Siang, kasihku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Sedang apakah dirimu? Berada dimanakah dirimu? Sudahkah kau menyantap hidangan siangmu?
Selamat siang sayang. Aku baik-baik saja, hanya aku semakin merindukanmu.
Ku tatap layar ponsel. Tak kunjung memunculkan apa yang kuharapkan.
Ku tekan tombol hijau itu, hanya nada dering dan mesin yang menyahut. Tak terangkat.
Diriku tersenyum, menanti, sembari mencoba menenggelamkan diri dalam mimpi.

Waktu terus berdetak, semakin lambat, semakin larut.

Malam, cintaku.
Sayangku, bagaimana kabarmu? Belumkah kau pulang? Apakah masih berkerja dirimu selarut ini? Sudahkah kau menyantap hidangan malam yang menggoda itu?
Selamat malam sayang. Aku masih menanti dirimu, mungkinkah kau sudah terlelap dahulu.
Rindunya semakin menusuk, tak ada sepatah kata.
Aku terbayang dirimu, wajahmu, menemaniku dimana ku berbaring.
Ku menanti dan mencari.
Dengan tubuhku yang sedari pagi hanya terbujur di atas kasur ini sembari menanti dering nada.

Maaf sayangku, jika aku terisak kembali saat menuliskan ini, aku hanya sedikit lelah. Bukan lelah menanti.
Maaf sayangku, jika aku membisu dan hanya tersenyum sambil menitik air mata.
Ku berimaji kembali diiringi rekaman nyanyian dirimu.
Maaf sayangku, aku begitu merindukan dirimu, seperti bulan, mentari, dan bintang yang ku ceritakan padamu.

Tuesday, August 20, 2013

Hai

Hai sayang, sedang apa kau disana?
Pasti kau cukup lelah, sedari pagi kau sudah berkerja.
Pulang cukup larut malam, belum lagi jika harus masih berkumpul membicarakan agenda.
Tak mengapa, kau orang yang istimewa, kau pasti bisa.
Tenang ku akan selalu disisi menanti.

Hai sayangku, lihatlah bulan malam ini.
Begitu indah bukan?
Bulan penuh, bercahaya lembut hangat, berpadu dengan angin dingin malam ini.
Begitu manis, seperti dirimu.

Hai sayangku, aku disini, kemarilah!
Duduklah sejenak disampingku,
menikmati malam syahdu.
Jika kau lelah, sandarkan dirimu dipangkuanku, lalu kita akan bercerita hingga kau terlelap.
Tidurlah, lepas penatmu bersamaku.

Perlahan,kau mulai tertidur.
Ku tersenyum memandang wajah lugumu yang manis.
Membelai pipi dan rambutmu yang membuatku iri akan lebatnya.
Ku kecup keningmu dan mengucap salam,"Selamat tidur, aku mencintaimu."
Ku dekap dirimu dan kuyanyikan lagu cintaku sebagai penghantarmu ke dalam mimpi.

Tertidur dan Terbangun

Aku berjalan bersamamu, menyusuri gelapnya malam, hanya sang rembulan yang berkawankan bintang menerangi gelapnya malam.

Ku tak tau arah dan akhir dari jalan ini,
yang ada aku merasa aman dan yakin.
Dekap hangat, senyum manis, suara memanja itu yang kusuka.
Tak henti-hentinya diriku memandangmu,
engkau sayangku.

Berjalan dan terus berjalan,
ku terbangun,
kusadari ternyata ku hanya bersama bayang semu yang begitu kurindu untuk segera kembali.
Sedari tadi aku tertidur,
dalam hangat kasihmu dan kecup bibir manismu.

Dan akupun terbangun,
terbangun dan terdiam terpaku.
Membisu tak berkata pada apa yang kusaksikan, diperbuat mentari.
Aku memilih menyimpan dan terpejam kembali.

Sunday, August 18, 2013

Dansa

Ia duduk di bingkai jendela, mencari sejuknya angin.
Sepoi-sepoi bertiup lembut.
Rambut cokelat merahnya dikucir tinggi menampakkan lekukan tengkuknya yang ramping.

Sambil menghela nafas, ia memandang pada telepon genggamnya.
"Hmm.. Belum juga. Tak ada. Sedang apa ya? Sudah makankah ia?" gumamnya.
Ia mengirim pesan singkat, lalu dicobanya menelepon sekitar tiga kali.
"Tak ada jawaban..."
Sekali lagi ia menghela nafas, cukup panjang kali ini.

Ditatapnya telepon genggam putih itu, hingga tanpa disadari temannya telah memanggilnya berulang kali untuk kembali masuk.
"Yaa.." teriaknya setelah tersadar sambil menyeka keringatnya yang berpeluh-peluh di dahi dan pipi.
"Heh! Mukamu merah? Kenapa?" tanya sahabatnya sambil duduk di sampingnya.
"Oh, ga, panas..." elaknya sambil menyeka ulang pipi dan matanya yang semakin memerah.
Namun dalam hatinya ia bercerita.
Seketika ponselnya bergetar dan berdering, foto dan nama yang tak asing lagi yang memanggil.
Ia terpaku sejenak, lalu tersenyum.
Sahabatnya ikut tersenyum sambil menggoda,"Hubby memanggil tuh, diangkat dong, malah diem diliatin aja... hehehe.."
"Ih..." sambil tersipu merah seperti tomat ia mengangkatnya dengan lembut.
"Halo..." ucapnya dengan manis, terdengar dari seberang suara hangat menenangkannya.



"Tak mengapa.
Aku rindu berdansa denganmu, sayangku.
Ku terus ingin berdansa dan hanya kaulah pasanganku.
Kelak jika sudah sedikit lelah, kita beristirahat di tempat kesukaan kita, kau membaca aku bersandar dibawah rindang pohon bersama tangan-tangan kecil penerus, dalam harmoni kesederhanaan memaknai cinta. Menjaga ritme hingga kelak kita menua bersama.
Aku mencintaimu dengan sederhana."

Malam

Malam menghampiri, tahukah, semalam, nanti, esok malam.

Sudah terlelap penat dalam buaian angin sang malam, sayangku.
Diri masih terus terjaga memastikan kau terlelap, sesekali ku mendesir menenangkan kau yang mengigau, seakan berkata,"tenang aku disisimu."

Sudah terbang melayang ke alam mimpi, sayangku.
Diri masih terus asyik bercerita sendiri tentang harinya sebagai dongeng untukmu, terlelaplah bersama bintang.

Sudah berkukur menyanyikan lagu malam tanda begitu lelah, sayangku.
Diri bersenandung mengucap nama, harapan, dan salam dengan manis membalas nyanyianmu.

Sudah terpejam lelap oleh hangat bulan, sayangku.
Diri memeluk erat hangat tubuhmu, meski dalam imaji, takkan dilepasnya.
Diri terpejam, matanya terpejam manis, meski sesekali terbasahi oleh suara titik rindu.

Tidur, tidurlah, sayangku sebelum mentari hadir dan kau akan bekerja, ingin terlihat semburat manis kata sayang senyum kecupmu menyambut.
Tidur, tidurlah, sayangku.
Diri akan menutup dengan senyum dan kata,"Aku mencintaimu."

Pantonim

Duduk, ditemani secangkir teh hangat dalam genggaman.
Menanti hadirnya hidangan yang begitu sedap wanginya, tak sabar ku ingin segera menyantapnya.
Tiba-tiba dari kejauhan datang seseorang lelaki, berpakaian rapi, mengenakan dasi kupu merah, berkemeja hijau, rompi silver dan celana kain hitam.
Mukanya putih dipoles oleh campuran kapur dan air, kepalanya berhiaskan topi kupluk berwarna merah hijau kuning.
Bertanya diriku, apa yang akan ia lakukan?


Oh, dia sedang seorang badut pantonim.
Ia memperkenalkan pantonim.
Ia berbicara begitu lantang bersemangat, sendirian.
Seperti berpidato dalam upacara kemerdekaan,
ia menggebu-gebu mengenalkan kepada semua orang apa itu pantonim.
Mataku mulai tertuju kepadanya.
Ku memperhatikan dan menyaksikannya.
Lucu, sungguh.
Aku cukup menikmati sajian penampilannya.
Aku tersenyum.

Setelah ia selesai pertunjukan, diriku sempat bertanya.
Mengapa muka harus dipoles putih?
Agar semua mata yang melihat dapat membaca jelas ekspresi yang diutarakannya, baik dari jarak dekat maupun jauh, jawabnya.
Dan ia menutup sedikit atraksinya dengan kata yang cukup bagus.

"Tanpa berbicara kita juga bisa mengutarakan dan mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan melalui gerak, efek suara, dan ekspresi wajah terutama mata. Tanpa disadari dan mereka sadari orang-orang di sekeliling kita telah melakukannya, hanya tinggal dari diri kita sendiri saja. Mampu dan mau peduli atau tidak. Dan yang terpenting adalah, jangan pernah berbohong, selalu jujur terhadap diri."

Kata-kata yang sedikit menyentilku kala itu.

Akhirnya kudapan malamku telah datang, aku mulai melahapnya sedikit demi sedikit sambil berpikir.
Ya, sepertinya aku juga sedang menjadi seorang badut pantonim, melakukan hal yang sama dengan  pria itu.
Namun alasanku satu, karena tak ingin menambah beban pikirannya, tak ingin ku mengeluh.
Jadi kupilih untuk menutupinya dengan topeng pantonimku.
Aku berpantonim, namun berpantonim dari tulisan, suara, dan nada.

Tuesday, August 13, 2013

Lagu Cinta: Aku Mencintaimu Juga

Aku tersenyum, terpaku dalam dekap malam.
Ya tak kupungkiri aku begitu menyukai apa yang kau ungkapkan, tertulis dalam media elektronik, sebuah pernyataan nyanyian hati.
Tak cukup sekali aku membacanya.
Hingga saat ini, telah berpuluh kali terhitung ku membukanya kembali dan membacanya.

Terlena, ya aku terlena dalam tiap lirik kata ungkapanmu.
Tak kusangka kau akan mengungkapkannya, menuliskannya, menjadi suatu lagu cinta.
Begitu manis dan lucu.

Sayangku, selalu senandungkan lagu itu untukku dengan tulus manis dan lembut berarti.
Kan selalu kusenandungkan laguku untukmu.
Dan kita dapat bersama dalam harmoni.

Aku mencintaimu juga, sayangku.

Sunday, August 11, 2013

Terlelap

Telah kupejamkan mata, memeluk dirimu dalam imaji, namun aku belum terlelap.
Seperti biasa, kembali, terdengar jelas di telingaku.
Suara hembusan nafasmu yang dalam dan hangat.
Sekali, dua kali dengkuran terdengar jelas, tanda dirimu sudah terlelap.
Begitu cepat kau terlelap. Bagaimana tidak, kau cukup lelah setelah seharian berkegiatan dengan giat dan padat.
Dengkuran itu juga menandakan kau begitu lelah, karena biasanya kau terlelap tanpa dengkuran seperti itu.
Akupun hanya tersenyum, namun sesekali akupun tertawa lirih mendengarnya.
Entahlah, aku begitu menyukai ketika mengetahui kau terlelap dengan nyaman ketika ku berceloteh.

Rindu memang, bercerita denganmu di malam hari seperti biasanya.
Namun saat ini ku tahu kau harus banyak beristirahat.
Pagi betul kau sudah terbangun, mengucap salam padaku, saling bercengkrama melalui pesan singkat hingga menjelang siang hari sebelum kau menghilang secara tiba-tiba seperti angin sejuk yang bertiup lembut di pipiku.
Malam, begitu larut malam kau kembali, lelah sudah sayangku ini.
Ya, kau sudah begitu lelah, hingga ku tak tega untuk sekedar memanja padamu, walau sebenarnya ku begitu ingin.
Tapi kesehatanmulah yang utama.
Ku tak ingin kau kembali jatuh sakit, kau berada jauh di tanah orang, ku tak dapat menjangkaunya.
Dan itulah yang paling membuatku risau.

Sesekali kau mengigau, seperti anak kecil yang mengeluh, hingga kau memanggil namaku lalu kau terbangun kaget.
Kutenangkan dirimu dengan desisan lembut dari bibirku.
Dan kau kembali tertidur mendekapku.

Begitu manis kau tertidur.
Meski terlelap, terbang terbawa mimpi, kau tetap memeluk erat tubuhku untuk menjagaku dalam hangat ragamu.

Sunday, August 4, 2013

Sayangku: Lagu Kemayuku

Pagi indah melambai lembayung merdu.
Langkahku pagi itu diiringi suara burung gereja yang berkicau.
Ternyata ia yang disana, kekasih, telah terjaga dan disambut hangat oleh bisikkan ilalang yang mendayu.
Dalam mereka ia menyimpan dan menyampaikan rindu.
Dalam angin ilalang meneruskan pesan indah rindu.
Disini aku tersenyum dan mencumbu pesan rindu.
Meski terkadang ia menggoda sehingga ku cemburu, tak mengapa, ku tak meragu.
Nyanyian malam yang selalu kusenandungkan merayu
Mengucapkan kataku yang membisu kepadamu.
Kasih dan setia yang membeku padamu, Sayangku.
Dalam lagu, kusenandungkan dengan kemayu.

Saturday, July 27, 2013

Times Calling

Under that starry sky I try to close my eyes, I can't.
I don't know why I'm keep smiling and stayin awake to calling the sun.
But suddenly the gloomy comes.
Times to call the sun, I keep calling the sun, but NO!
Already one-half-hour I'm yelling, no answer at all, only the chirp of bird answer it. Damn!
I start to panic and worry, until finally there's the sound that I really want to hear.
But the sun only in silence, shows its sadness to me.
I feel more than that. Guilty, sorry, disappointment, sad, and any kind of that crush into my soul. Especially, I've some surprise that I already prepared, that's why I also still stay awake.
But no smile and magic word from the sun.
I only stare, then sit in the silence, don't say anything.

Today, it's my time to come back again to that place, the place I really hate and scare of.
Is the sun remember it? Is the sun know it?
I've no clue.
Just wish the sun calls me back, smiles like used to, and this time accompany me.
Wish me luck and I love you so.

Friday, July 26, 2013

That

See. See that.
Still think and look to the another one, another side, even you already got the best in your arms and eyes. Why you still look around?

Think. Think of that.
It can't become a reason and there aren't any premises to make that make sense even for logic or feeling. If still stubborn with that, you're nuts and egoist.

Careful. Careful with that.
It can kills you and another, so silently, fastly or slowly. Depend on how you do.

Don't waste your life, precious life to do something useless and stupid for you life and lover, anyone around you.
Don't waste your mouth, sweet mouth to talk about something that you didn't really meant it, you say that words only like throw a garbage to the dustbin.
Only in mouth not in heart.


p.s.
I write this one inspirited from the "A Thousand Words" movie.

Thursday, July 25, 2013

Sunshine

Covered in white, she deeply stare and talk to the sun.
The morning dew drops right on her pink blush cheeks.
The cold of morning wind blows her hair so softly.
Beauty, beauty. Beauty of the sunshine make her stunts.
The warmth of the sunshine make her so comfy to sleep in it.
The sweet smiles of the sunshine makes her day full of joy after the gloomy night.
The magic words from the sunshine that shine on her and weep her night tears, makes her more miss and love the sunshine always.
Every single day it grows.
For the sunshine. The one and only.

Sunday, July 21, 2013

Pouring Rain

Yes, when I write this one the dark night sky was raining.
Quite heavy rain.
Sky, so black clear and every raindrops twinkling like crystal clear.
One by one its wet me from head to toe, inside and outside, cover and hide my silent tears.
I stare at the sky, watching raindrops dancing in the bling bling night stage.
Moon shines on them as the lights effect.
Wind blows on the trees as the music.
They dance so passionately.
The moves so beautiful, when I stare it deeper and deeper, that moves draw some patterns.
The patterns that I always like, see, miss and think.
They draw the face of yours, my lovely dovey.
Shine so bright, feel so warm, taste so sweet, looks lovely as usually.
I smile and start to close my eyes.
Keep that on my mind and heart.
I sleep with your warmth in the pouring rain.

Thursday, July 18, 2013

Hypnotize

That face draw of child suavity,
That face full of joy and beauty,
That face with white innocent and purity,
That face titivate sweetest smiles which right now in a thousand-hundred-mile away from this mighty city.

Miss it so,
kiss the chubby cheeks and smoothy lip of the sun, so passionately,
touch it gently
see it deeply.
feel it warmly.

Tonight,
I lay in my bed,
stare the midnight noir sky,
whisper the secret message to the stars,
deliver to the sun with the windy wind singing,
that magic spell which hypnotize us.

Monday, July 15, 2013

Ceritera Waktu

Udara pagi ini begitu dingin mencekam hingga rasanya tubuh ini hanya ingin terbalut rapi dalam selimut putih yang tebal ini.
Pelukannya begitu kurindu, terutama saat seperti ini.
Andai saja aku pergi ke tanah tetangga ini bersama dia, menghabiskan waktu liburan ini dengan manis bersamanya.
Sayangnya memang waktunya belum tepat, ia harus segera memenuhi kewajibannya dahulu.

Rindu, itulah yang begitu kental merasuk dalam diri.
Terjagakan oleh jarak dan waktu.
Ia begitu merindu, ia menyampaikannya dengan manis kepadaku. Memanja.
Akupun juga merasakan hal yang serupa dengannya, sejak awal ia harus berangkat, dan ku tak dapat melihat senyum manisnya untuk sementara waktu.
Aku menyukainya ketika ia berbicara dan mulai memanja.
Aku sangat suka itu.
Saling memuja dan mendamba.

Ketika seperti ini aku beruntung dapat sedikit melepas rindu melalui barang pemberiannya.
Yang kusuka adalah liontin ungu dan boneka darinya, dua benda yang begitu bermakna untukku.
Dulu ia membuatkanku sebuah gelang merah manis, sayangnya itu harus aku simpan saja karena terlalu rapuh.

Oh, ya pasti, malam ini aku semakin merindunya.
Apalagi ketika menanti pesan singkat darinya yang tak kunjung menghiasi telepon genggamku.
Dan melodi dari rekaman nyanyiannya selalu bersenandung mengayunkan diri, mengucap rindu dalam tiap katanya.
Waktulah yang menyimpan ceritera ini semua, dalam detik akhirnya akan memberi makna dan pelajaran untuk selanjutnya.

Sunday, July 7, 2013

Jiwa Juwita

Selamat pagi, sayang!
Salam dan kecup hangat dari Juwita kepada Jiwa begitu juga sebaliknya melalui sinar hangat sang mentari.
Percakapan sederhana memulai hari mereka.
Meski jauh Jiwa dan Juwita semua tk menghalangi niat dari mereka untuk tak berkata.
Juwita suka menanti Jiwa hingga petang. Entahlah menurut Juwita itu hal yang mengasyikan baginya.
Jiwa tidak pernah bisa diam, selalu ada saja yang menyibukkan dirinya, bermain maupun bekerja.
Hingga terkadang Jiwa perlu ditegaskan oleh Juwita agar tak lalai dengan dirinya.

---

Kali ini memang Jiwa sedang bertugas cukup jauh.
Beruntung Jiwa dan Juwita dapat terhubung menjalin kasih lewat pesan singkat yang disampaikan oleh desir angin lembut.
Memang butuh kesabaran juga yang cukup. Namun tak mengapa selama mereka dapat bersama.
Juwita kali ini tak menghiraukan pesan angin dari yang lain dimana ditujukan kepada Jiwa, meski Juwitapun mengerti.
Juwita dan Jiwa telah berjanji.
Juwita setia menanti, Jiwa utuh kembali.

---

Malam semakin larut Juwita masih menanti Jiwa sambil membaca buku.
Sayup-sayup angin menemaninya.
Hingga tengah malam angin membisikkan kata manis dari Jiwa.
Sayangku? panggil Jiwa dengan hangat kepada Juwita.
Juwita tersenyum dan membalasnya dengan lembut.
Mulailah Jiwa bercerita, seperti dongeng tengah malam, tiap hari selalu ada yang didongengkan oleh sang Jiwa yang dirasa Juwita sepadan dengan ia menemani dan menunggunya.
Burung hantu mulai berdentang menandakan sudah waktunya bagi mereka beristirahat.
Kecup sayang dari Jiwa untuk Juwita, dipeluknya dengan hangat sang Juwita melalui nyanyian malam.
Dimana Jiwa dan Juwita begitu meridu.

Thursday, July 4, 2013

Rekaman Manis

Waktu menunjukkan pukul 03.35 saat itu, baru terhitung setengah jam dan Jelita tiba-tiba terbangun dari tidur yang tak cukup nyaman itu. Entah, ia merasa belakangan ini tak bisa tidur lelap seperti biasanya.

Dingin, ketika itu udaranya begitu dingin karena basuhan air hujan.
Setengah tersadar, matanya masih terpejam memaksa melelapkan diri.

Rekaman nyanyian dari suara yang hangat itu masih terus berputar menemani dirinya sampai benar-benar terlelap dan menyambutnya hingga ia terbangun.
Rekaman nyanyian yang mengenakan namanya dalam lirik. Terdengar seperti selalu memanggilnya dengan mesra.

Ya, ia selalu memutarnya dikala titik-titik roman rindu menghujaninya.
Ketika ia harus terlelap dalam hening sendiri karena suatu hal.
Ketika ia harus sendiri tak dapat mendengar detak nafas dan gemerisik keluhan manis sang penyanyi ketika terpejam.
Ketika ia merasa tak lena untuk beristirahat dan akan diputarnya terus menerus.
Ketika ia tersenyum merekah dalam hatinya.
Pasti, apapun itu, selalu dilakukannya, ketika ia akan memulai dan menutup harinya.

Ya, itu adalah suara yang manis.
Manis dan hangat, cukup menenangkan.
Manis, suara sang penyair dan penyanyi yang manis.

Wednesday, July 3, 2013

Dentang Pagi


Pagi ini aku tersenyum bahagia layaknya matahari yang hangat menyinariku saat ini.
Dalam benakku terbayang sudah raut wajahnya yang manis memikat, kasihnya yang hangat terucap dari mulut yang berhiaskan gingsul, dekapnya yang menenangkan.
"Uuh.. Pagi.." ucapnya dengan manja menyapa diriku. Begitu lucu dan lembut ia berucap.
Ku kenakan kaos merah bola pemberian darinya, terlihat manis dipakai.
Dia tampak tampan dengan kemeja biru navy, bercelana abu yang sangat muda dan bersepatu suede senada dengan kemejanya.
Dia menghampiriku, melempar senyum manisnya, lalu menciumku memanja.
Seharian aku dan dia membuat cerita yang indah, selama perjalanan tak hentinya aku tersenyum dan dia tak hentinya memandangi dan memanjakanku.
Tak sempat sedikitpun aku terpikirkan akan waktu esok, dimana ia akan memulai untuk 'berpetualang'.
Cukup jauh. Ya, tak dapat dipungkiri aku cukup khawatir, namun tak mengapa.
Aku tahu ia akan kembali, menepati janjinya setelah dua bulan ia bertualang.

---

Malam itu dingin sekali, aku terus memandangi angka pada jam.
Rasa rindu yang ada bukannya terobati, justru semakin menjadi-jadi.
Sejak lama sudah tertahan, aku ingin kuat dan hanya tersenyum di depannya.
Namun sungguh malam itu dalam genggam imajinya aku menitikkan air mata.
Tidak terisak-isak, tidak tersedu-sedu, juga tidak meraung-raung.
Semuanya mengalir begitu tenang dan halus, meski begitu ia tetap mengetahuinya.
Ditenangkannya diriku dan di lelapkan diriku, ucapan salam tidur dan ciuman sebelum terlelap darinya menemaniku dengan hangat.

---

Dentang pagi merdu bernyanyi menyelimuti seisi jelita petang.
Sang mawar merekah manis menanti dengan rona merahnya.
Sang serigala penjaganya yang sedang bertualang memenuhi janji.
Sang mawar hanya selalu berharap untuk ia kembali dengan utuh dan memberi kehangatannya setelah ia menepati.




Sayangku, selamat berekpedisi dan berhati-hatilah,
disini ku selalu merindu dan berdoa melalui bintang.
Ukirlah dengan nyata dan usaha penuh, berikan arti untukmu dan mereka.
Tak luput tetaplah terjaga selagi berusaha, kembali seluruh dirimu.
Maka sayang, kau akan kembali dengan senyum bahagia dan bangga.
Dan aku akan menyambutmu dengan senyum termanis yang bangga. :)

Monday, June 24, 2013

Tujuh Hari

Waktu menunjukkan pukul lima pagi, Caroline tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang lelap semalam.
Nafasnya terdengar sedikit berat, matanya terbuka kaget seperti melihat hantu di pagi buta.
Setitik air mata berhias di pucuk mata kanannya, bibirnya spontan berkata, "Tidak..".
Entah, apakah mimpi itu sebegitu buruk baginya, atau mungkin bukan sebuah keburukan namun sebuah kekhawatiran?
Caroline kembali memejamkan matanya seraya membalikkan arah tubuhnya ke samping dan memeluk erat boneka beruang kesayangannya.

Pukul sepuluh pagi, hangat sinar matahari mulai memasuki ruang tidurnya, ia bergegas bangun membasuh wajahnya lalu membersihkan dirinya.
Ya hari itu hari Minggu, ia dapat sedikit bersantai di tengah waktu ujian.
Selesai ia membasuh diri, ia lalu turun dan menghampiri sang Bunda yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk siang nanti.
"Sudah bangun? Tumben, biasanya kalau libur bangunnya siang gara-gara semalaman bergadang menonton film." tanya sang Bunda sambil tersenyum.
"Sudah dong.. hehehe..." jawab Caroline.
Melihat Bundanya sibuk memasak Caroline pergi meninggalkan dapur agar tidak mengganggu, ia menuju ruang makan dan mengambil sebuah apel merah segar yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin.
Caroline menggigit apel itu sedikit demi sedikit, ia duduk di ruang santai dimana adiknya yang gendut sedang bermain dengan mainan baloknya.
"Mau dong!" pinta adiknya ke Caroline.
"Ambil sendiri lah..." ungkap Caroline.
"Ah, jauh..." jawab adiknya.
"Bilang saja malas. Dasar gendut!" ungkap Caroline sembari memberi adiknya apel itu.

Pukul sebelas pagi, ia mulai memegang telepon genggamnya, membuka dan mengecek notifikasi yang memenuhi layar telepon selularnya itu.
Ah, tidak ada yang menarik.
Caroline membuka pesan singkat, lalu mengirimkan pesan kepada Harry.
"Selamat pagi" pesan yang dituliskan oleh Caroline. Tak lupa juga memasukkan sedikit kecupan pagi dari dirinya.
Tak perlu berharap untuk segera dibalas olehnya, Caroline sudah hafal betul kapan Harry akan terbangun dan membalas pesan singkat itu.
Caroline mengangkat kepalanya dan tanpa disadari matanya menatap kalendar yang menggantung di tembok dekat dengan tirai jendela.
"Sekarang, sudah Minggu ya..." ungkapnya lirih.
Ia mulai sibuk mengitung jumlah hari yang tersisa untuk menyeberang ke bulan selanjutnya.
"Satu... Dua.. Tiga... dan tujuh? Tujuh hari lagi."
"Hanya satu minggu lagi berarti.... Dan Harry... Hmmm..." ucapnya dalam hati.
Caroline berdiri dan berlari naik menuju atas.
"Mau kemana???" tanya adiknya yang kaget karena tiba-tiba Caroline berlari terburu-buru.
"Kamar." jawab Caroline dengan keras namun lembut.
Caroline mulai terlihat seperti orang yang tidak wajar, ia bergumam sendiri dengan dirinya.
Ia mencoba menenangkan diri.
"Tunggu, berarti..." ia mulai meracau tidak jelas.
"Tidak.. Kenapa cepat sekali? Dan.. Dan.. Nanti... Dia! Dua bulan!? Arrgh!"
Caroline terduduk di atas kasurnya yang penuh dengan boneka itu menenangkan diri.
"Tenang! Hanya dua bulan!"
"Hanya... hahaha... Tapi ini tidak lucu! Mengapa begitu cepat?"
Pikiran Caroline mulai berterbangan entah kemana, semua kembali membawa hal yang berbeda-beda.
Ia kala itu hanya dapat terdiam dan sesekali tersenyum sendiri sembari menatap foto pada layar telepon selularnya.

----

Pukul satu lebih dua puluh tujuh menit pagi, dimana tersisa enam hari lagi, Caroline menelepon seseorang.
Siapa lagi jika bukan dia yang dikirimkannya pesan singkat itu.
Berbincang-bincang dan sesekali bercanda, dan tertawa.
Caroline mulai bertanya, "Kamu sudah siap-siap?"
"Belum... Hehehehe.. Weee!" pertanyaan Caroline dijawab dengan sedikit keisengan.
Caroline hanya membalasnya dengan tertawa.
Bibir Caroline mulai bergerak kembali, kali ini ia hanya berkata, "Cepat sekali ya. Sangat cepat."
"Rindu ya?" Caroline berbalik ditanya, namun ia hanya menganggukkan kepala dan menjawab lirih.
Keheningan mulai menyelimuti perbincangan mereka.
Caroline hanya terdiam dan tersenyum manis kala itu, meski sesekali ia menahan bibirnya yang selalu ingin melengkuk ke bawah.
Caroline mendapatkan sebuah pesan dari dia, dan Caroline tak bisa menjawab maupun berjanji untuk terus bisa mengatasi hal-hal itu. Sesekali ia pasti menyentuh titik puncak dari rasa tersebut. Namun Caroline bisa berjanji dengan kesetiaannya.
"Sudah, ayo tidur.." ungkap Caroline dengan suaranya yang gemetar.
Kata-kata romansa dari Caroline maupun dia keluar menutup perbincangan mereka malam itu.
Setidaknya Caroline merasa senang ia masih bisa menutup hari dengan tersenyum, meski dihiasi dengan sedikit titik hujan pada pipinya.

-----

Caroline tidak berharap banyak, ia hanya berharap dan selalu mendoakan yang terbaik.
Caroline berharap sang dia baik-baik saja dapat segera menyelesaikannya dan kembali pulang.
Caroline berharap rasa rindu dari sang dia selalu tulus untuk Caroline.
Caroline juga hanya berharap kesetiaan sang dia sama besarnya dengan miliknya.
Selalu menjaganya untuk ia, Caroline.



Jagalah dirimu selalu, tetaplah pada tujuanmu,
tuntaskanlah agar penuhi janjimu.
Janganlah kelak engkau berganti jiwa seiring waktu,
tetaplah pada setiamu.
Untuk ia yang selalu kurindu,
disini ku duduk menantimu kembali, untuk mendampingimu
hingga kau membawa gelar dalam senyummu,
dan melanjutkan lembaran baru hidupmu.

Saturday, June 1, 2013

Totally Missing You

I don't know what exactly, why?
Why right now I feel so miss you.
If you know, my heart is beating so fast.
The all previous days that I spent with you still not enough.
Like that days were my last chance to life and be with you, before I fly to God's hand.

Especially yesterday, last night, I was chilled.
You touch my cold nose.
You enveloped me with that softy grey blanket and the warmed me with your hug.
You stared at me, smiled, and kiss me.
How I love your affection. I feel so tranquil, don't wanna end this all.
I don't wanna you leave me and lose you. Totally.

Yes, it's never enough for me to be with you.
Yes, it's also make me worry and always afraid.
Afraid if the bad dreams will happen,
I can't be with you,
die in coldness of your frigidity cause something and someone.

Diam

Tatapan matanya penuh dengan binar cinta,
namun sebenarnya menyelimuti rasa resah dan sedihnya.
Begitu tajam menusuk memandang dengan kesenduannya.
"Mengapa kau terdiam?" tanya sang hati dengan penuh keheranan.
"Jangan, janganlah........" tiba-tiba terhenti, namun sang hati sudah tau apa yang akan diucapnya.

Pulang. Ketika kau pulang.
Bermain-main sehingga ia luka, lagi, meski diam-diam ia tetap mengerti.
Diam-diam ia sungguh mengerti, akan selalu mengerti.
Tak mau. Ia tak mau lagi.
Ia diam, diam dalam rasa duka, meski ia tertawa.

Tertahan, semua hanya tertahan dan ingin ditahan karena sudah cukup lelah untuk bercerita.
Diam. Ia hanya diam membisu.
Sesekali wajah manisnya melontarkan senyum menawan bak mawar yang merekah.
Menghibur diri, hanya untuk menenangkan dirinya.

Maafkan ia sayangku, bukan bermaksud tuk tak berbagi.
Maafkan ia yang sekarang hanya akan diam dan berkata dengan senyumnya.

Ya, ia begitu menyayangi dan mencintaimu, dengan lebih.
Selalu, meski ia diam.

Tuesday, May 28, 2013

Toga Untuk Sang Pendongeng

Waktu berdetak dengan cepatnya. Tak terasa sudah tiga tahun dihabiskan di dalam gedung elit tersebut dengan orang-orang berintelektual tinggi.

Kisah juga sudah begitu banyak mewarnai lembarannya, dimulai dari hal yang paling sepele seperti kisah persahabatan, percintaan bahkan hingga edukasi dan organisasi.
Bisa dikatakan aku sungguh beruntung bisa selalu di dongengkan oleh kisah-kisah hidup kesehariannya. Dikenalkan dengan dunianya yang menurutku tak biasa seperti kebanyakan orang. Kesibukannya adalah detak jantungnya saat ini, maklum aku tau dia orang yang begitu aktif.
Kuakui bukan hanya secara fisik ia unggul namun secara intelektualpun. Ya itulah mengapa tak heran ia menjadi seorang bintang, bangga. :)
Ya walau seringkali suka membuatku juga cukup merasa cemas dan was-was. Namun sampai sekarang ia masih tetap setia berada di sampingku saat ini dan selalu memegang tanganku sambil mendongengkanku.

Waktu tidak banyak untuknya sekarang. Ia harus segera menyelesaikan tugas-tugas akhirnya. Dimulai menuju ke tanah orang lain di seberang sana yang banyak dikata pantainya begitu indah, Belitung. Selama dua bulan ia akan mengabdi untuk masyarakat disana.
Rindu? Pastinya.
Dilanjutkan dengan tugas akhirnya yang utama agar ia bisa memegang toga dan melemparnya ke udara. Tersenyum dengan manisnya, bersama keluarga, dan ku hadir membawakan boneka seperti dirinya dan bouqet bunga untuknya. Ya aku juga bgitu ingin melihatnya di panggung itu nanti.

Dilema. Itu yang sekarang kurasakan dalam dirinya. Melanjutkan gelar atau langsung terjun mencari pengalaman hidup. Sebenarnya ku cukup yakin ia bisa melakukan keduanya, asalkan saja ia juga yakin dengan dirinya.
Ya, seperti saat-saat inilah aku seketika terpikirkan, pikiran mulai tidak fokus melayang entah kemana. Hal-hal kecil yang tadinya tak ingin kuingat, tiba-tiba ikut terselip dalam pikiran, hanya membuat hati dan pikiran ditipu sehingga cemburu.

Ia orang yang luar biasa menurutku. Tangguh meski tak terlihat seperti itu. Tapi jangan nilai saja melalui rupanya yang manis dan sendu itu. Ia lembut namun mematikan juga.
Ya, itulah salah satu dari beribu-ribu alasanku mengapa ku begitu menyayanginya dan mencintainya. Bukan dari ada apa yang dimiliki namun apa adanya ia yang membuatku semakin mencintainya.
Ia berbeda sungguh orang yang berbeda.

Teruslah sayangku, jangan ragu dan takut akan dirimu. Ku ingin melihatmu bukan sebuah bintang lagi, namun melihatmu menjadi sesungguhnya seorang pria yang menggapai mimpinya. :)

Coretan sore
Untuk ia, sang pendongengku yang setia.

Tuesday, May 21, 2013

Lukisan Malam

Ia belum tertidur, hari sudah terlalu larut, tapi tidak untuknya.
Ia duduk, menyilakan kaki dan memangku buku sketsa miliknya, di sekelilingnya penuh dengan drawing pen, spidol, dan pensil warna dengan kuas kecilnya.
Diam, tertutup, bibirnya.
Menari, gemulai, tangannya.
Menggoreskan tinta dengan pasti.
Garis lembut, kuat, tebal, tipis, semua tertuang dalam buku sketsa miliknya.

Perlahan garis itu menjadi sebuah bentuk wajah.
Cantik dan tampan.
Rupawan.
Terlihat mereka bersandar pada pohon yang sedang berguguran daunnya, di atas bukit yang hijau dekat dengan rumah.
Manis, wanita terlelap di pelukan pria yang membaca tentang kehidupan.
Belajar untuk semakin melindungi sang wanita.

Entah apa yang membuat dirinya menggoreskan tinta-tinta tersebut dan membentuknya menjadi sebuah mimpi dalam ceritera.
Mimpi manis seseorang bersama yang dikasihi.
Akankah ia juga atau akan memimpikannya?
Tak tahu. Yang jelas itu hanyalah ceritera mimpi tentang rindu, sekarang dan esok nanti, hingga tutup usia.

Wednesday, May 8, 2013

Gadisku Sayang

Untuk gadis yang kusayangi.
Tersenyumlah untuk ia yang kau cintai.
Bersyukurlah untuk ia yang dicintai.

--

Disana gadis bergelang merah dan cokelat itu duduk manis.
Sendiri dipojokan meja kayu.
Entah apa yang sedang dibacanya, terlihat begitu serius ia mengartikan tiap kata yang tertulis.

Angin pagi itu cukup sejuk bersahabat.
Matahari pun bersinar dengan ramahnya.
Memang waktu yang paling disukai gadis itu untuk membaca dan menyendiri.
Meski memang ramai orang berlalu-lalang di sekitarnya, ia, sang gadis tetap berada pada dunianya.

Sesekali wajahnya yang tertunduk membaca naik menatap taman hijau tepat di depan dirinya.
Satu, dua, tiga, hingga kelima kalinya ia menghela napas yang cukup dalam.
Tidak, sepertinya ia tidak terfokus pada buku di hadapannya itu.
Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari kembali membaca buku dalam genggamannya itu.

Tiga menit berlalu, pikirannya yang terhanyut oleh hati terpecah oleh kedatangan seseorang.
Ia terlihat sedikit terkejut dan malu.
"Mana?" tanya orang itu.
Butuh dua detik untuk gadis itu menjawabnya,"Itu...."
Suaranya terdengar parau, ia seperti ingin menatap orang itu namun takut.
Kumelihat gadis itu mengangkat wajahnya, ia berusaha tersenyum namun terlihat begitu sulit.
Wajah lembutnya terlihat sedikit basah, hidungnya menjadi merah seperti Rudolph.
Mungkin karena itu ia tak berani menatap orang itu.

Dia pergi. Membawa kotak dalam genggaman.
Sang gadis kembali duduk, diam, bukunya terbuka namun tak dibacanya.
Pandangannya kosong tak tahu kemana arahnya.
Sempat sebelum ku beranjak untuk pergi aku menghampiri dirinya.
Gadis itu tersenyum manis padaku, namun senyum yang lelah.
Kulihat bukunya sedikit basah karena tangannya yang berkeringat dingin dan bekas tetes hujan yang jatuh dari pipinya.
Ia hanya berkata padaku,"Aku tak tahu lagi harus berbicara apa dan bagaimana. Persik yang dulu dan sekarang satu kandang denganku, puteri di kota jauh, dokter berbintang, siapa lagi? Aku menjadi asing, aku siapa? Dia, selalu saja, apakah tidak mengerti? Aku....."
Ucapannya terputus karena sesaknya kambuh, hasil lelah dari pikiran dan hatinya.
Ku hanya memeluknya, menenangkannya agar tidak semakin parah.
Sembari memeluknya ku berkata,"Sudah, biarkan saja, kau sudah cukup lelah, tak perlu lagi kau berkata. Simpanlah baik-baik. Ia pun bukan tidak pandai, hanya bodoh saja mungkin tak dapat menyadari. Mungkin juga bukan ia tidak mengerti hanya saja ia belum paham, masih bermain-main dalam dunianya."

Gadis itu terdiam, memelukku kembali dengan tangannya yang kecil.
Sejadi-jadinya ia menangis dalam dekapku, entah apa yang ia katakan, ia bergumam.
"Sudah, sudah. Aku bisa ikut menangis nanti melihatmu seperti ini, kau cantik sayangku, jangan nodai itu."
Satu jam aku bersamanya.
Yang terakhir kudengar dari yang ia ucapkan adalah,"Lelah. Aku ingin tertidur selamanya."

Tuesday, May 7, 2013

Potrait

Kau lihat malam ini begitu indah bukan?

Ku ingin bercerita kepadamu tentang potrait.

Aku duduk dibawah sinar rembulan, menikmati secangkir teh hangat sembari membaca buku tebal itu.
Kubuka lembar demi lembar, satu per satu, dan seketika tangan ini berhenti pada lembar terakhir bab pertama.
Pandangan mata berubah.
Tangan yang berhenti sesaat, lalu bergerak kembali meraih buku kecil yang tergeletak di samping persis cangkir teh itu.
Entah mengapa tiba-tiba konsentrasi berubah menuju ke buku kecil itu.
Kubuka buku kecil merah itu, kubuka lembaran yang dibatasi oleh tali pembatas.
Terlihat secarik kertas berwarna merah jambu, diikat oleh pita kecil berwarna ungu dan pink.
Di dalamnya tertulis kata-kata yang selalu membuatku tersenyum ketika ku membacanya, ditulis oleh tangan indahnya, diukir dengan hurufnya yang tipis namun pasti.
Di samping kertas itu terdapat selembar wajahnya terbingkai manis dalam potrait.
Lima, sepuluh, lima belas menit, entah hingga berapa lama ku memandangi.
Senyum, senyum merekah di bibir. Sayang, di ikuti dengan hujan yang turun membasahi pipi yang merona.
Sesak. Sesak rasanya, tak dapat ku menghirup sedikitpun udara malam ini. Kenapa? Kenapa tiba-tiba ku merasa sesak? Apa mungkin karena kondisi dunia maya yang sedari tadi juga kuperhatikan? Tak tahu.
Dering pesan singkat masuk memecah lamunanku, kubuka, kubaca.
Oh.. ternyata ia, dalam potrait. Mengingatkan untuk bersantap malam. Terpaku selama tiga detik dan kututup.
Terimakasih, namun maaf aku tak dapat memenuhinya, untuk malam ini saja.
Saat ini aku tak dapat merasakan apapun, hanya rasa lelah yang menyelimuti.
Lelah. Cukup lelah untuk hari ini. Dari kelas yang cukup melelahkan, bermain-main bersama hujan hanya untuk bisa pulang, berhadapan dengan hal yang tak diduga, berteman dengan alasan dan kepalsuan, menjaga diri agar tetap sadar dalam dunia nyata.
Tak kuduga, ya, sungguh tak kuduga. Ternyata.
Kutenggak habis teh itu, langsung kurebahkan tubuh ini dan berbalut dengan selimut putih tebal, tak lupa kaos putih melingkar di leher. Sepertinya aku akan tertidur lelap dan terbang bersama mimpi, meski hanya secangkir teh yang mengisi.
Maaf sayangku, hari ini aku begitu lelah, ingin ku berbagi namun keadaan melarang.
Malam ini ku hanya ingin tertidur dan bermimpi akan potraitmu, membiarkan angin malam menyapu semua rasa lelah dan murka.
Maaf sayangku, malam ini tak ada lagi senandung pengantar tidur.
Tapi aku ada jika kau tak dapat berkawan dengan malam, memanggil namaku dalam desir angin yang lembut membuai sukma, dimana, mungkin dapat membuatku tersadar untuk menemani.
Jika tidak, biarlah angin-angin itu membuaiku menuju peristirahatan.
Untuk esok ku berdoa, selalu, agar matahari membangunkanku, senyum merekah tanpa tetes hujan ketika melihat potraitmu yang nyata.

Potrait itu selalu tersimpan indah dalam buku kecilnya
dan juga memori dalam dirinya.
Potrait terindah yang takkan terlupa.

Monday, April 29, 2013

Ceritera Dongeng

Aku begitu menyukai dongeng.
Membuatku dapat berimajinasi secara bebas.
Dari kecil aku begitu menyukai ceritera dongeng Puteri Salju. Hingga tiap malam aku selalu membaca buku dongeng itu berulang-ulang.
Akupun selalu berimajinasi menjadi gadis cantik rupawan seperti ia, pintar seperti ia, baik hati seperti ia. Dikelilingi oleh kurcaci-kurcaci yang memiliki sifat berbeda-beda namun dapat saling menerima.
Ya, aku lebih menyukai dongeng sederhana seperti itu daripada fantasi berlebihan seperti Barbie.

Saat ini aku beranjak dewasa, ya tetap saja aku menyukai dongeng daripada ceritera lainnya.
Aku memiliki satu pendongeng yang hebat menurutku, aku adalah pendengar dan pembaca setianya. Aku begitu menyukainya. Begitu bijak. Ya walau terkadang sang pendongeng ini tersesat dalam ceritanya sendiri.
Namun aku akui ia adalah pendongeng yang bagus, dari cara ia menyampaikannya. Sampai-sampai saja aku membayangkan dan berharap pada bintang jatuh ia akan menjadi pendongengku tiap malam dan juga pendampingku selamanya. :)

Baru saja aku mendapatkan dua buah dongeng yang begitu indah dari dua pendongeng yang berbeda.
Pastinya mereka membawakan tema yang berbeda pula.
Satu membawakan dongeng bertema fantasi, tentang sebuah makhluk seperti monster namun bukan monster yang begitu baik dan menawan. Ceritanya membuat teringat masa kecil.
Satu lagi membawakan dongeng bertema petualangan, tentang pengembara yang bertemu dengan bintang ajaib, dan ceritanya membuat tertantang.

Aku membaca kedua dongeng tersebut dengan seksama.
Meski jelas berbeda namun ada satu hal yang menarik yang membuat cerita ini serupa.
Sungguh. Aku tak menyangka.

Setelah selesai membaca dongeng seperti yang telah aku katakan, aku akan berimajinasi dengan dongeng tersebut.
Terbang dengan fantasi yang ada, tersenyum, tertawa, seperti anak kecil yang diberi hadiah gula-gula kapas.
Namun kali ini aku hanya menutup dua dongeng tersebut dengan senyuman hangat dan manisku setelah kutenggak habis teh bunga mawar hangatku.

Hmm... Kembali ku tersenyum.
Bukan, bukan tanda ku tak menyukainya, bukan juga tanda ku menyukainya, dan bukan juga ku tak menghargai karyanya.
Aku menghargai karya mereka dengan memberi senyuman terbaikku, belum tentu aku dapat membuat cerita indah nan manis seperti mereka.

Namun ku hanya tak ingin berimajinasi dengan dua dongeng tersebut.
Aku akan berimajinasi dengan dongengku sendiri yang telah cukup lama kutulis.
Salah satunya mirip seperti cerita Jasmine dan Aladdin, dimana akhirnya terbang bersama melihat dunia.
Aku berimajinasi dengan dongeng dari pendongeng yang kusuka, pendongenku yang bijak.

Friday, April 26, 2013

Her Last Short Story

This is the story about a girl, a short story from her sweet pinkish lips.
Short story about someone that she love, mean everything for her.
Short story about someone that give her promise, teach love, and stole her soul.
Short story which become the last story I will hear from her, because unfortunately she should cross the Styx before the time it'll las.
Short story about her angel or maybe dead angel.

****

She wake up as the sun set, birds chirping, roses blooming. She walk down from her bed, hold her teddy bear and starts come to me.
Then, she sits right beside me and smile at me, she seems give her sweetest smile but I sure that's not the sweet one. Seems so heavy.
I start talk to her, "Morning pretty.. Sleep well?" I said. "Morning too pretty, hmm.. quite well." she replied. I give her a cup of hot peach tea, the one of her favorite tea beside camomile and rose tea.
She stars drink it little by little, I stare at her, look her face so beautiful under the sunlight this morning. Suddenly she starts to talk and her voice so shaking.
"I'm tired" she said. I confused and start wondering, "Tired? Tired of what honey?" asked me.
She didn't answer my question, she only seems hide it in the silence.
Then, she starts tell something.
"It's him. He won't give up. How sweet is that, right my dear? You have someone struggling for thou. Unfortunately it's not for me... and now what should I do if him still dream her, not mine. He already fall for her...." she said.
I still can't catch it, "Honestly, what are you talking about? Him? Who?" asked me curiously.
She in silence again.
"Dear..." and she talk again with teary eyes.
"Should I fly far far away? I think I'll, from now. Yes, maybe I'll fly in silence and vanish, hold my tongue to say love & cares, cover this scars beautifully. Should I?" then her tears falling down.
"Right now, if I fly between him & her, if still like tht I'll tired & die. Now, I ask thou, where's my love. Is there for me? No, I can't see it anymore. No love. Only sweet words for solace I think, so it's a fake or we can say it was a lie? I have no clue the deep meaning of that words. See him more on her side. Know that sweet kiss on her forehead, cheeks, and lips. Know that warm hug round on her, even from back. Oh! Sweet torture, which blind my heart & broke my wings."
she lend her head on my shoulder, right now I know exactly how her feeling.
"Dear.. So what will you do? Give up? Step back? Everything you do will hurt you my dear, you already know that, aren't you?" I said.
"Yes my beloved friend, I know. There's no time left for me my friend, the bells will ring soon to calling me."
"So, in time, I will. Sorry to him, sun. But if he can see, this heart won't lie & always in love with him. Loyal with him, the goddess of sun. Even I'm not in this world again, someday. Also my friend I really love you, I'm happy to have a friend like you." she close her eyes and hug me so tightly.

****

My tears drop silently without she nor I know, I just hug her frail body which fight with the sickness, I kiss her forehead and caress her half bold head, even like that she still so pretty. Maybe that's the last short story from her which I'll hear until her time comes.
I love you my pretty friend, we're always be pretty and tough as a flower even when winds strike us.

Saturday, April 13, 2013

The Princess

No.
That's not you who the princess that he means, but her.
No.
He said only one princess that he knows, not you but her.
No.
She asked, "Is it me? Yes or No" and he answered "Yes", no it's not for you, but for her.

I can say no more.
I don't understand.
I fall and broke, my body numb.
I don't know what you already did.

Yes.
You, the princess.
I'm, nothing.

So. I just see them smile and buried in the shadow.
I will hide alone silently in the infinity hurtful sky and finally vanish and die.

Thursday, April 11, 2013

Bayang Malam

Tidak!
Dan jiwanyapun berteriak memberontak.
Ia berada di sudut ruangan, meringkuk kesakitan.
Nafasnya tersengal-sengal karena dadanya begitu sesak menyiksa.

"Sekarang apa? Bagaimana? Aku harus bagaimana!
Katakan apa yang harus aku lakukan!"
Ucapnya terbata-bata.

"Katakan! Aku tak tau.. Aku terlalu buta dan bisu! Aku lumpuh! Tolong diriku, aku tak mengemis kasihan, aku hanya meminta tolong padamu. Aku tersesat. Genggam tanganku, tuntun aku ke cahaya itu bersamamu. Selalu bersamamu.
Aku begitu mencintaimu, mencintaimu dengan sepenuh hatiku!"
Ungkapnya.

Tak mengerti apa yang dikatakannya, ia seakan-akan seperti seorang pemabuk yang meracau.
Mata merah dan bengkak, muka pucat, bibir manis kecilnya terluka, tangan kecilnya tergores pecahan kaca dari cermin yang ia tumbuk.
Lalu ia terlelap, lelah terpejam bersama teriakan hatinya yang penuh dengan gelisah, cemburu, dan amarah.
Itulah dia, gadis kecil manis yang terselimuti oleh bayang malam yang mencekik.

Thursday, April 4, 2013

Tidak, Matahariku.

Matahariku..

Tidak, aku tidak marah kepadamu.
Justru aku begitu sayang padamu.

Tidak, aku tidak marah kepadamu.
Justru aku begitu rindu padamu.

Tidak, aku tidak marah kepadamu.
Justru aku begitu suka padamu.

Tidak, aku tidak marah kepadamu.
Justru aku begitu cinta padamu.

Matahariku..

Ya, aku tidak marah padamu.
Mungkin aku hanya kesal
Aku begitu sayang.
Aku begitu rindu.
Aku begitu cinta.
Padamu.

Ya, aku tidak marah padamu.
Aku hanya kesal.
Kau begitu jauh adanya, dengan ia, awan-awan.
Aku kesal, ku ingin selalu mendekapmu, saat ini dan selanjutnya,
namun aku hanya dapat menatapmu dari ruang jarak.
Aku tak dapat menyentuhmu.

Aku begitu rindu dan khawatir akan engkau,
namun aku hanya dapat menyaksikannya dan tenggelam sakit dalam tiap tetes rinduku.
Aku hanya kesal dengan kenyataan firasatku tentangmu dan ia, bunga chrysant, pada masa lalu,
karena hati ini dan perasaan ini selalu benar adanya.
Aku tak dapat berkata dan bertindak,
bagai mawar yang hanya dapat melihat tuannya
dan berkata dengan isyarat dari warna mahkotanya.

Monday, April 1, 2013

Ceritera Sore

Untuknya, ceritera indah tentang rindu yang tak terucap kepada pujangga.

Sore itu, aku duduk menikmati secangkir teh hangat sambil sibuk merajutkan syal wol cokelat, warna kesukaanmu.
Kau datang menghampiriku di bawah pohon yang berbunga itu dengan sweater hitam yang membuatmu tampak begitu rupawan.
Senyummu langsung membalas tatapanku padamu.
Kau duduk tepat di sampingku, melingkarkan tanganmu dan mendekapku.

Sayup-sayup angin menemani kita berdua.
Kau mulai bercerita dengan suaramu yang lembut, aku sangat menyukainya.
Kusandarkan kepalaku pada bahumu, dan tanpa kusadari cerita indahmu membelaiku hingga ku tertidur.
Kau sadar, kau berhenti dan tersenyum manis menatap wajahku, kau semakin mendekap diriku erat ke tubuhmu.
Aroma yang sungguh aku sukai.

Sesekali kau membelai rambutku, angin membelai dirimu.
Kau kecup diriku yang tertidur dalam pelukmu, dan kau mulai tertidur namun tetap terjaga.
Ya, kita berdua tertidur di bawah pohon yang sedang berbunga itu.
Bercerita tentang, kasih, cinta, dan hidup.
Dalam tidur kita yang lelap,
kita saling bertemu dalam mimpi dan akan berjumpa kembali ketika kita membuka mata, untuk berkata...
Aku mencintaimu.

Sunday, March 31, 2013

Torn

A words of love, beautifully hiding the another i love you for someone.
A sweet missing, beautifully hiding the another miss for someone.
A warm kiss, beautifully hiding the another kisses for someone.

And it makes torn on the Angel.
A deep torn.

Saturday, March 30, 2013

Terbangun

Ia terbangun.
Terbangun dalam gelap malam.
Terbangun dalam hujan.
Terbangun dari tidurnya yang lelah.

Ia terbangun,
namun dalam raut wajah dan matanya masih terlihat jelas sisa lelahnya.
Raut kelabu, mata sendu, pipi dingin terbasahi.

Ia terbangun dan tersadar ia sendiri.
Hanya gelap malam, angin, dan rembulan yang terlihat.
Ia terbangun dan duduk di balkon.
Menyandarkan dirinya yang lelah di tembok dan meringkuk.

Ia menatap sang rembulan dan mulai bercerita.
Dan seperti biasa ia akan selalu bertanya,
akankah esok ketika ia membuka mata dapat melihat lagi sambutan hangat dari sang mentarinya, lalu menyinarinya dengan senyum, cium, dan memanjanya begitu mesra?
Akankah?
Atau mungkin hanya akan selalu menjadi sebuah mimpi yang hilang ketika ia terbangun.

Friday, March 29, 2013

Merindu dan Dirindu

Merindu dan dirindu.
Dua hal yang sangat indah dan memiliki makna indah bukan?

Aku bertanya padamu hai jiwa yang merindu, begitu menantang dan merasakan getaran yang tak wajar bukan?
Aku bertanya padamu hai jiwa yang dirindu, begitu menyenangkan dan merasa begitu spesial bukan?

Ya, itu sangat indah.
Sayangnya bagaimana jika rindu itu tak tersampaikan karena takut ataupun berbagai hal wahai jiwa yang merindu?
Bagaimana jika rindu itu ternyata bukan untukmu namun untuk yang lain atau mungkin terbagi wahai jiwa yang dirindu?

Bahagia.
Sedih.
Dicintai.
Tersakiti.
Berucap.
Bersembunyi.
Itulah hal yang dapat dibuat oleh mereka, sang merindu dan dirindu.
Saksi dari jiwa yang telah merasakan keduanya.
Saksi dari jiwa yang merindu, namun melihat yang dirindu merindu kepada rindu yang lain.

Tosca

Pagi dengan mentari hangatnya menyapa dengan ramah.
Angin dan kicau burung membelai diri begitu lembut.

Ku duduk tepat di bagian tengah, baris ketiga dari depan dari batas pembagian bangku.
Ku lihat ke sekeliling, cantik, rupawan.
Ku tersenyum sendiri.

Ku hadir berbalut dress berwarna hijau salem atau tosca kesukaanku, hadiah hari jadiku yang ke 20 darinya.
Cantik.
Ku hadir membawa doa dan syukur.
Doa untukku dan dirinya.
Syukur kepada-Nya yang maha pengasih.

Ya, entah kenapa aku merasa begitu cantik di hadapan-Nya.
Sangat bersyukur.
Ya, dan ketika aku berdoa tentang mimpiku tak terasa pipi terbasahi oleh tetes penuh harapan.

Ya, aku akan selalu berdoa dan tak pernah berhenti.
Untuknya yang kupuja.

Jawab Sang Malaikat

Jika kau bertanya padaku apa yang akan kulakukan jika kau adalah dewa kematianku,
aku akan tetap berdoa untuk jiwamu.
Jika kau bertanya padaku kalimat, kata, dan huruf apa yang akan keluar dari mulut manisku,
aku takkan berucap.
Tidak, aku hanya akan tersenyum dan menciummu dengan mesra sampai untuk terakhir kalinya.
Bersyukur kaulah yang akan membawa jiwaku pergi.

Datanglah, bawa saja jiwaku pergi.
Datanglah, bawa juga mimpi-mimpiku bersamamu.
Satukan dengan mimpimu.

Aku akan tetap memuja, selalu memuja, tak akan aku pungkiri meski aku akan terlihat bodoh dan kau adalah malaikat pencabut nyawaku.
Aku tak takut sayangku, aku hanya takut kau menghilang namun jiwa ini tak terbawa olehmu.
Hidupku berubah ketika ku mengenal dirimu, menjadi lebih mengerti tentang hidup dan kebahagiaan.

Ya, aku tahu sejak awal.
Kau adalah cinta terakhir yang akan selalu kupuja sampai jiwaku benar-benar menghilang tertelan usia,
tak dapat lagi terbangun karena tuntutan kematian.

Tuesday, March 26, 2013

The Lullaby and Sunshine

It's late night,
the moon shining beautifully.
It's late night,
the moon singing a lullaby.
It's late night,
the moon accompanying her so patiently.

Tired soul,
but don't want to rest.
Drowsy eyes,
but refuse to close.
Sweet smile,
but hide a fake.

She only lies in her roses garden,
by herself.
She only give all to her man,
heart and believe.
Listening a beautiful lullaby.
She afraid to fall asleep, afraid can't meet her sunshine again.
She afraid to fall asleep, afraid of a dreams that won't last and nightmare.

She will just let her soul fly away and never back again, no one can, except her sunshine.

Friday, March 22, 2013

Secangkir Teh, Segelas Susu Cokelat

Tanyakan padaku, apa yang dapat membuatmu tenang jika kau tak dapat tertidur.
Secangkir teh hangat,
asapnya yang mengepul dengan indah dari cangkir kesukaanku.

Tanyakan padaku, apa yang dapat membuatmu tersenyum jika kau tak dapat tertidur.
Segelas susu cokelat,
tetesan air yang mengalir dari dinding gelas bertingkah lucu.

Tiap malam kuhabiskan waktu dengan dua hal sederhana itu.
Menanti kantuk yang entah hadir kapan.
Dua hal sederhana yang kusuka.
Dua hal sederhana yang juga selalu kudapat darinya.

Saturday, March 16, 2013

Tertidur


Sang putri yang terbius tertidur,

tertusuk jarum bukan milik benang pintal namun diri dan seorang.
Sang putri tidur yang jiwanya berkelana, hatinya menyaksikan belati,
pergi mengasingkan diri, pulang membawa cerita bisu.
Sang putri tidur yang terlelap,
namun jiwanya bersenandung pilu berserah pada waktu.

Sang putri tidur yang tak akan pernah lagi terbangun untuk menyambut sang mentari dan hanya akan menjadi sebuah dongeng kenangan ucapan perpisahannya.
Selamanya sang putri akan tidur, sendiri, sukmanya tak kembali, meski berjuta orang berdoa.
Selamanya sang putri akan tertidur di taman bunganya yang ikut mati.

Malam Puncak

Malam ini adalah puncaknya.
Aku kembali terduduk manis di kursi belakang.
Mengelilingi kota Jogja yang indahnya tak terkikis waktu,
dan rindu mulai menghampiri menanti bunyi panggilan.

Malam ini adalah puncaknya.
Aku tertawa namun termenung.
Berbicara namun membisu.

Malam ini adalah puncaknya.
Bahagia bercampur duka.
Nikmat bercampur derita.
Semua terasa melebur menjadi satu dalam jiwa.

Malam ini adalah puncaknya.
Aku terdiam membeku dalam pelukan sahabatku,
dan membuatku menangis sejadi-jadinya.

Malam ini adalah puncaknya.
Aku berjalan tanpa arah, penuh dengan kebingungan.
Aku berlari tanpa kepastian menuju harapan.

Malam ini adalah puncaknya.
Aku mulai terbujur kaku tak tau harus bagaimana.
Jantung lelah berdetak.
Aku mulai mati dan membusuk. Dan malam ini adalah puncaknya.

Wednesday, March 13, 2013

Dalam Dekap

Kala senja..
Melihat wajahmu, terbawa bayangmu.
Membicarakan dirimu, terbawa cerita rindu.
Mencium dirimu, terbawa kasih syahdu.

namun,
Menggenggam tanganmu, terbawa takutku.

Mendengar suaramu, terbawa pikiranku.
Memikirkan ucap katamu, terbawa lemas sukmaku,
mati dalam dekapmu.

Tuesday, March 12, 2013

Sederhana

Gemetar, ya tanganku gemetar sambil saling bergesekan.
Dengan sigap kau meraih tangan kurus ini agar sedikit tenang.
"Dingin ya?" suara lembut menyusul.
"Huum" jawabku.
Dan kau tersenyum.

Sweater hitam bergaris tepi putih dengan lambang anjing kecilnya,
serta kemeja kotak biru pemberian sang kakak membalut tubuhmu.
Itu membuatmu terlihat semakin manis. Aku sangat suka.
Ya aku suka yang sederhana namun justru membuat indah.
Itulah juga yang membuatku jatuh dalam dekapmu.

Aku, jika diminta menceritakan tentangmu takkan habis kata.
Sama halnya dengan rasa sayang dan cinta ini padamu.
Aku, jika ditanya apa yang membuatmu jatuh cinta padanya.
Dan aku akan menjawab, "Kesederhanaannya. Aku mencintainya dengan sederhana sedari dulu."
Seperti tulisan Sapardi Djoko Damono dan telah menjadi lagu yang senang kunyanyikan, berkata, "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana"

Sunday, March 3, 2013

Piano Hitam

Dentingan piano itu sudah tak pernah terdengar lagi.
Biasanya tengah malam, suara merdu dari piano hitam itu masih mengiringi sunyinya malam.
Namun sekarang sudah tak pernah lagi terdengar.

Rangkaian nada dari lagu ciptaannya tiba-tiba berhenti.
Sebagian nada hilang dan belum terselesaikan.
Kemana itu semua?
Tak dapat kutemukan lagi nada-nada itu,
nada indah bercerita tentang sang serigala dan bidadari.
Aku tak mengerti...
Sekarang yang terlihat hanya sebuah piano hitam yang berdebu,
di sudut ruang menanti untuk kembali bernyanyi melanjutkan kisah indah itu.

Saturday, March 2, 2013

Tuanku

Akankah tuanku benar pada ucapnya?
Akankah tuanku memenuhi ucapnya?
Akankah tuanku kembali untuk membangunkanku?
Akankah tuanku juga setia pada rasa dan ucapnya sepertiku?
atau mungkin...
Akankah tuanku pergi berburu?
Akankah tuanku pergi menggenggam jiwa lain?

Tak mengerti, semua tergantung tuanku.
Aku hanya bunga yang merekah merona untuk tuanku seorang, sampai kapanpun.
Dan,
Aku hanya bunga yang suatu saat akan layu dan mati karena tuanku sendiri.

Sunday, February 24, 2013

Bidadari

Ia seorang bidadari,
bidadari yang begitu jelita.

Ia seorang bidadari,
bidadari yang bersayap dan begitu cantik bercahaya.
Ia seorang bidadari,
bidadari yang hanya akan hadir untuk pangeran tidurnya.
Ia seorang bidadari,
bidadari yang diperebutkan namun tetap setia.

Setiap pagi, bidadari itu menyapa dengan hangat.
Sayang, kini tak lagi.
Setiap malam, bidadari itu bersenandung menghantar tidur.
Sayang, kini tak lagi.
Sang bidadari menjadi sedikit redup dan rapuh.

Hingga pada waktunya ia,
sang bidadari,
harus pasrah menghilang dalam kesakitan karena tak sanggup terbang kembali.
Ketika sang tuannya terlupa berpindah dengan yang lain,
ia akan hanya terdiam dalam peti emas sampai tuannya kembali.

Dan ia bersenandung,
"Jika waktu itu datang satu yang kupastikan adalah aku takkan sanggup, aku bukan lagi bidadari, bidadarinya, dan hal yang ditakutkannya akan terjadi, ia akan kehilangan diriku.
Namun jika ia dapat mendengarkan senandungku yang disampaikan angin bahwa ku tetap akan setia padanya seorang. Tak akan pernah menjadi bidadari bagi yang lain."

Ialah seorang bidadari,
bidadari yang kehilangan cahaya dan sayapnya patah,
sampai tuannya yang membawa kembali sebelum terlambat dan mati.

Friday, February 22, 2013

Dia

Aku perkenalkan Dia.
Sekali lagi.
Dia yang selalu aku bicarakan tiap saat,
Dia yang selalu aku mimpikan ketika tidur,
Dia yang selalu mengisi hari-hariku,
Dia yang selalu ada dalam doa'ku.

Dia, bergingsul manis, berkulit sawo matang, berparas apik tidak membosankan.
Itu yang kusuka.
Dia, bertubuh langsing namun sangat hangat pelukannya, berambut hitam kelam, bermata indah, serta kepribadiannya.
Itu yang kusuka.
Senyumannya bagai magnet untuk kaum hawa.
Rasa gelisah, was-was, cemburu sering menghampiri, namun aku menikmatinya. Dan ku percaya pada Dia.

Dia, ya, Dia.
Dia yang tak terlupakan.
Dia yang kurindu.
Dia yang kucinta.

Dia.
Alunan laguku ketika malam, mentari pagiku ketika terbangun.
Namun untuk sekarang aku selalu takut untuk terbangun,
bukan, bukannya aku tak ingin melihat parasmu lagi sayang.
Bukan juga aku tak percaya pada janjimu yang akan kembali menemukanku dan membangunkanku.
Ku hanya takut melihat dirimu bukanlah mentari pagiku yang dulu,
bukan mentari pagiku namun ku tetap dalam cahayamu.

Dia.
Ku yakin, ku berharap, ku berdoa, ku berusaha, ku bertahan.
Dia.
Menjadi yang terakhir, menghabiskan sisa perjalananku bersama Dia, dan tiba waktunya ku hanya akan berakhir dalam dekapnya.
Untuk Dia.

Yogyakarta, 21 Februari 2013

Thursday, February 21, 2013

Untuk Pujangga Malam

Untuk sang pujangga malam,
ku takkan berlari, ku tetap berdiri.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan ingkar, ku tetap setia.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan melepas, ku tetap memegang erat hati.
Untuk sang pujangga malam,
ku takkan berhenti, ku tetap bersenandung.

Hanya untuk sang pujangga malam.

Untuk sang pujangga malam,
ku takkan terbangun, ku tetap tertidur.
Sampai nanti Tuhan yang memaksaku untuk terbangun dan tidur dalam pelukan-Nya.

Hanya untuk sang pujangga malam.

Sunday, February 17, 2013

Lelah

Ingin kupenggal rasanya kepala ini,
agar dapat tertidur lelap dalam kelam.
Ingin kubunuh rasanya jiwa ini,
agar tak lagi tersudutkan dan dituntut dari segala arah.

Tak paham apa yang dikata,
Tak paham apa yang diinginkan,
Tak paham atas ego mereka,
Tak paham mereka tak mau mendengar dan hanya menyerang.

Aku lelah.
Lelah harus berkata.
Lelah harus mengalah.
Lelah harus tersenyum meski tersakiti.
Lelah harus menjadi sebuah boneka.
Lelah harus membuat mereka melihat.
Lelah, aku lelah menghadapi sendiri.
Aku lelah, lelah untuk sendiri.

Aku lelah.
Apalagi tanpamu yang menemaniku.
Dia yang selalu kurindu dan kucinta.

Saturday, February 16, 2013

Bunga Mawar

Ku seperti bunga mawar dalam cerita dongeng,
diletakkan dalam kotak kacamu yang begitu indah.
Ku seperti bunga mawar dalam cerita dongeng,
yang dimana akan layu tanpa pemiliknya.
Ku seperti bunga mawar dalam cerita dongeng,
mahkotanya akan mulai gugur seiring waktu berjuang untuk tetap hidup dalam kotak kaca.
Dan, ku seperti bunga mawar dalam cerita dongeng,
mati dan terjatuh namun tetap berada dalam kotak kaca.
Ku seperti bunga mawar dalam cerita dongeng,
hanya merekah manis untukmu seorang.

Si Putih

Si putih, kujulukinya.
Walau sebenarnya warna putihnya sudah mulai memudar, tapi tetap ia terlihat begitu mempesona.
Tak masalah bagiku, kutetap suka, meski ia telah berkata "aku tak pantas, aku kotor"

Ia si putih yang selalu hangat dan menenangkan.
Ia si putih yang selalu membuatku terlelap dan bermimpi indah.
Ia si putih yang selalu melingkar lembut di leherku dan beraroma seperti dia yang kucinta.

Si putih, tak terasa cukup lama kau berada dalam genggamanku.
Si putih, ia yang selalu tenang ketika aku panik.
Si putih, ia yang selalu membuatku tersenyum sekaligus menangis manja ketika rinduku padanya melanda begitu deras.
Si putih, ia yang selalu setia tetap di sampingku saat terlelap.
Ialah si putih yang telah menjadi sahabat sekaligus saksi bisu diriku.

Tak pernah kulepas ia,
aroma yang paling kusuka ada padanya.
Selalu membuatku semakin mencinta dan merindunya.

Ialah si putih yang sangat kusuka,
ialah si putih yang akan selalu ku genggam selamanya,
baik sendiri maupun tidak,
tapi diriku ini akan tetap menjadi miliknya
ia, pemilik aslimu putih.

Wednesday, February 13, 2013

Ku Ingin

Ku disini,
terdiam sendu ditemani dongeng tidur.
Dalam kebekuan,
merajut kata di tengah hening malam.

Terpaku akan dirimu, aku, dan kita.
Terbius oleh senandung lirih sang hati yang merindu, mencinta,
dan memuja.
Aku meringkuk, tunduk pada dingin malam.
Hanya terdiam membisu.

Satu persatu kuseka titik-titik itu,
titik yang menutupi paras ayu sang malam.
Tersenyum, namun berteriak.
Berani, namun tertutup takut.

Kaki ini tetap berusaha terus untuk berjalan,
walau angin malam cukup kencang menusuk tubuh.
Tapi tak seberapa menyakitkan dari keheningan suara hatimu,
diam menyebar duri, bukan kata roman.

Ku ingin dicinta, ku ingin mencinta.
Selalu.
Ku ingin dirindu, ku ingin merindu.
Selalu.
Ku ingin dipuja, ku ingin memuja.
Selalu.
Ku ingin dimilikinya, ku ingin memilikinya.
Selamanya.
Dan aku selalu akan setia, tetap dimana aku berdiri untukmu, tak akan berbeda.

Tuesday, February 12, 2013

Gadis Manis

8.02.2013
Jumat yang cerah membuat bunga-bunga menjadi merona, semerah pipinya.

Senyuman sang mentari menghangatkan tubuh kecilnya,
angin menari di sela-sela rambutnya yang hitam kelam.

Sambil tersapu malu ia mengucapkan selamat pagi, pada ia, dirinya yang masih terlelap.
Tak banyak yang dilakukan oleh gadis manis itu, sesekali hanya menengok pada detikan jam dan jendela.

Fajar mulai menyapa, apa yang dinanti belum kunjung datang,
sedikit resah, namun tetap sabar menanti.
Tiba-tiba raut wajah gadis manis menjadi lebih manis karena senyuman penantian.
Namun itu tak berlangsung lama.

Pukul empat lebih tiga puluh delapan menit dua puluh tujuh detik mengubah raut wajah manisnya.
Hujan mulai turun membasahi pipinya yang merona,
bukan, bukan sebuah senyuman lagi.

Gadis manis, duduk terdiam, tak mengerti.
Dalam diam ia berpikir dan merasa,
"Apa ini benar?" tanyanya dalam hati.
"Hanya sesuatu yang biasa ataukah mungkin...." seketika ia terhenti.

Tak percaya namun apa daya,
tubuh kecilnya mulai gemetar,
jantungnya berlomba dengan detik waktu.
Kepercayaannya tergores, meski sedikit itu begitu dalam dan menyakitkan.

Gadis manis mulai berpikir kembali,
"Apa yang harus kulakukan? Tetap memuja atau apa?"
"Mana yang harus kupercaya? Masih pantaskah dipercaya"

Gadis manis hanya termenung,
berdiam diri menyeka tetes hujan di pipinya.
"Mungkin hanya akan aku pertanyakan kembali, cukup dengan diriku, menjadi sebuah rahasia ganjalan diri"
Dan gadis manis mulai lemas, tertidur membawa senyum manisnya ke dalam mimpi.

Sunday, February 10, 2013

Bom Waktu

Seketika tubuh menjadi lemas dan tangan gemetar tak menentu.
Seakan tak percaya dan mengerti apa yang terlihat.

Ya, ku tak mengerti hal ini, apa maksudnya, ku tak memahaminya.
Keringat dingin mulai membasahi telapak ini.

Balas membalas. Satu persatu.
Kubaca perlahan, semakin jauh, semakin kacau yang ada.
Tak kuasa menahannya, dan mulai berjatuhan.
Jatuh begitu saja.

Apakah benar-benar baik disana?
Tak bermain-main dengan belati ataupun api sambil bersembunyi.

Percaya kuberi, sama dengan kau memberi.
Kujaga, kupenuhi.

Ya, mungkin ku akan hanya berdiam diri,
duduk manis menyimpan sendiri.
Atau mungkin ku akan meledak seperti bom waktu.

Friday, February 8, 2013

Tempat Itu

Tersusun indah satu persatu alunan kata,
senyum manis dan sapaan hangat.

Disini hati berdiri diri berlabuh,
menetapkan rasa tetap pada satu tempat.

Disanalah akan ku bersandar,
meski mungkin rapuh termakan waktu dan kau bersama duniamu.

Ku akan tetap berada di tempat itu, setia, menanti,
jika ku hilang tak perlu kau takut, kau bisa temukan diriku disitu,
dan tak akan ada yang berubah untukmu.

Monday, January 21, 2013

Rindunya

Ketika sang rindu memilih untuk hinggap berdiam pada diri.
Raga tak bertemu, kasih tak bisa memadu.
Sang sukma dan hati merasakan siksa detik waktu.
Namun rasa itu tetap satu, kamu.
Tak hanya untuk sekarang maupun nanti, tapi juga untuk esok.
Dimana aku masih hidup dan berdiri, setia menanti.
Baik dengan ia yang kupuja ataupun seorang diri.